Mengenal Lebih Dekat Kampung Adat Ruteng Pu'u di Flores NTT

photo author
Carles Marsoni, Ide Nusantara
- Rabu, 22 Januari 2025 | 20:09 WIB
Kampung Ruteng pu'u (Foto: Medsos Facebook Elo Nanta)
Kampung Ruteng pu'u (Foto: Medsos Facebook Elo Nanta)

 

idenusantara.com - Banyak orang mengenal kota Ruteng, namun tak kalah banyak juga orang yang mengenal Kampung Ruteng. Kalau Ruteng diucapkan secara biasa, sedangkan suku kata terakhir pada sebutan kampung Ruteng, yakni eng diucapkan sama seperti huruf e pada awalan ke. 

Kampung Ruteng terletak di Kelurahan Golo Dukal, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, NTT. Dari kota Ruteng, kampung ini berjarak kurang lebih 3-4 km. Kampung ini dapat dijangkau dengan ojek atau bemo. Dibagian timur, kampung ini berbatasan dengan kampung Lempe, pada bagian barat berbatasan dengan Wae Teku Leda. Di bagian utara berbatasan dengan Beo Taga, sedangkan pada bagian selatan dengan wilayah Leda. Tiga sumber air mengelilinginya yakni, Wae Lideng, Wae Moro, dan Wae Namut.

Mengapa kampung ini diberi nama kampung Ruteng? 

Menurut para sepuh adat nama itu sudah lama menjadi landmark kampung itu. Meski mereka tak tahu pasti mengapa diberi nama demikian. Ada asumsi bahwa mungkin nama itu diberi karena banyaknya pohon Ruteng (beringin atau ficus) di sekitar kampung itu. Pohon ini tidak berakar hawa, daun-daunnya kecil berbentuk bulat memanjang. Pucuk dari dedaun pohon itu sering digunakan sebagai sayur-mayur oleh masyarakat setempat (Anselmus Baru, Menyimak Nilai Kebersamaan Dalam Mbaru Niang Ruteng, FFA Unwira, Kupang , 2004, hal. 17-18).

Baca Juga: Kampung Adat Rangat Desa Wisata Wae Lolos Labuan Bajo

Ada kebiasaan tertentu dalam masyarakat berkaitan dengan penamaan suatu tempat, yakni dengan mengambil sesuatu yang menonjol dari tempat itu. Misalnya, di suatu tempat dominan ditumbuhi pohon mangga atau pau dalam bahasa Manggarai maka tempat itu dinamakan Pau. Contoh lain misalnya, Tengku Tok karena ada terletak di pinggir jurang (tengku), Poco karena tekstur tempat bergunung-gunung. 

Ketika kita memasuki Kampung Ruteng kita akan melihat pohon-pohon beringin yang begitu rindang di sekitar kampung. Itulah alasannya pemberian nama ini, meski belum ada penelitian yang lengkap tentang nama itu.

Kampung Ruteng masih menyimpan jalinan tradisi yang kental dan pola perkampungan yang kuat berakar pada pola arkais masyarakat Manggarai. Misalnya, susunan batu yang tertata rapih menuju perkampungan dan yang mengitari halaman kampung yang membentuk lingkaran.

Asal usul orang Ruteng dan Runtu

Kampung Ruteng sejak dulu dihuni oleh dua klan yang berbeda, Ata Ruteng dan Ata Runtu. 

Suku Ruteng dikisahkan mempunyai leluhur orang Minangkabau, Sumatra Barat. Leluhur mereka terdiri dari Nggoang (yang memperanakan orang Ruteng), Roang yang memperanakan orang Pitak, dan Wulang yang memperanakan orang Leda. Mereka datang dari Minangkabau melalui Goa (Sulawesi Selatan), kemudian menyusur melewati Bima (NTB), dan pada akhirnya mendarat di Warloka (Manggarai Barat). Bersama juga ada leluhur orang Todo menepi di Satar Mese. Ketika tiba di Nte’er atau Pela, leluhur orang Todo dan leluhur orang Ruteng berpisah. Orang Ruteng meneruskan perjalanan menuju arah timur dan menetap di Ndosor (sebuah wilayah pegunungan di bagian selatan Kota Ruteng, sekarang di sebut poco Nenu) (Ibid, hal. 19).

Baca Juga: Kampung Adat Bena, Desa Wisata Berbalut Kearifan Lokal di Kabupaten Ngada

Sementara historigrafi orang Runtu hanya diceritakan melalui cerita rakyat yang diturun-temurunkan. 

Ada kisah bahwa leluhur mereka adalah Sawu. Ia berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Setibanya di Manggarai Sawu menempati wilayah Mando Sawu. Ia memiliki dua anak, Sawu Sa yang laki-laki dan Riwe yang perempuan (Robert Syukur, Adak Penti Compang Ruteng, Sebuah Simbol Ziarah Pencarian Diri Orang Ruteng, unpublicated, hal. 12). 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Carles Marsoni

Sumber: Andre Yuris

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Pongkor! Sepenggal Sejarah yang Terlupakan

Rabu, 22 Januari 2025 | 07:47 WIB

Tradisi Berburu Ikan Paus Suku Tufaona di NTT

Selasa, 21 Januari 2025 | 07:05 WIB

Legenda Putri Mandalika Dari Lombok

Selasa, 21 Januari 2025 | 06:24 WIB
X