hiburan-budaya

Dari Wae Nakeng, Sebuah Festival Menjahit Persaudaraan Lewat Iman dan Budaya

Sabtu, 31 Mei 2025 | 23:53 WIB
Tampak masyarakat sedang menyaksikan dua orang pelajar yang sedang memerankan drama dalam memeriahkan festival religi dan budaya di halaman Paroki Santa Familia Wae Nakeng, Lembor, Manggarai Barat, NTT.

Di salah satu sudut, Ricard Jundu, pelaku UMKM dari Ruteng, sedang melayani pengunjung. Baginya, festival ini lebih dari pasar.

“Saya bisa bertemu banyak orang, mengenalkan produk, dan melihat anak-anak tampil di panggung. Ini tempat berekspresi yang sulit ditemukan di tempat lain,” kata Ricard Jundu.

Seni dan Anak-Anak sebagai Penggerak
Panggung seni menjadi pusat perhatian setiap malam. Dari drama budaya yang menceritakan kisah lokal, hingga tarian rangkuk alu yang dilakukan dengan penuh tawa. Para penampilnya adalah siswa-siswi SD, SMP, dan SMA dari berbagai wilayah.

“Anak-anak sangat antusias. Mereka latihan setiap sore sepulang sekolah,” ujar Chresentia Setia, Ketua Panitia Festival.

“Kami percaya mereka adalah masa depan gereja dan masyarakat. Karena itu, ruang ini kami siapkan untuk mereka menunjukkan bakatnya," ujarnya lagi.

Tak sedikit orang tua yang meneteskan air mata melihat anaknya tampil. Di tengah keterbatasan fasilitas, panggung kecil itu menjadi panggung besar bagi harapan.

Harmoni yang Tumbuh dari Akar

Festival ini bukan festival elite. Ia tumbuh dari tanah, dari umat biasa, dari tangan-tangan yang sehari-hari mengurus ladang, pasar, dan keluarga. Tapi justru karena itu, maknanya begitu dalam. Ia menunjukkan bahwa harmoni tidak lahir dari konsep besar, melainkan dari perjumpaan sehari-hari yang tulus.

“Yang kami lakukan sederhana, tapi dampaknya terasa. Orang saling kenal, saling bantu, dan yang paling penting, saling merasa punya rumah di sini,” kata Romo Leonardus.

Akhir yang Menjadi Awal

Ketika malam terakhir festival ditutup dengan lagu rohani yang dinyanyikan bersama lintas umat, suasana terasa syahdu. Tak ada sekat, tak ada perbedaan. Yang ada hanya rasa syukur karena di sebuah paroki kecil di Wae Nakeng, iman dan budaya bisa bertemu, dan persaudaraan bisa dijahit kembali.

Festival ini memang berakhir. Tapi benih-benih perjumpaan, partisipasi, dan solidaritas yang ditanam selama tiga hari itu, akan terus tumbuh di hati umat, dan di tanah Lembor yang ramah.***

Halaman:

Tags

Terkini

Pongkor! Sepenggal Sejarah yang Terlupakan

Rabu, 22 Januari 2025 | 07:47 WIB

Tradisi Berburu Ikan Paus Suku Tufaona di NTT

Selasa, 21 Januari 2025 | 07:05 WIB

Legenda Putri Mandalika Dari Lombok

Selasa, 21 Januari 2025 | 06:24 WIB