Seorang Biarawati Yang Melanggar Protokol di Vatikan

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Senin, 28 April 2025 | 18:39 WIB
Suster Geneviève Jeanningros, biarawati yang melanggar protokol di Vatikan (Foto:VaticanNew)
Suster Geneviève Jeanningros, biarawati yang melanggar protokol di Vatikan (Foto:VaticanNew)

Persahabatan Selama Lebih dari 40 Tahun

Hubungan antara Suster Geneviève dan Paus Fransiskus dimulai saat ia menjabat sebagai Kardinal Jorge Mario Bergoglio, Uskup Agung Buenos Aires.

Hubungan mereka diperkuat oleh komitmen bersama mereka terhadap mereka yang paling rentan dan oleh luka-luka kediktatoran Argentina. Karena Paus juga memiliki hubungan dengan para korban penindasan, seperti Esther Ballestrino de Careaga, bos pertamanya.

Baca Juga: Sengkarut Proyek Rp 32 Miliar di Manggarai Timur dari Dipa Sakter, Kuasa Direktur Beny Potje Mangkir dari Panggilan Polisi

Paus Fransiskus, yang dengan penuh kasih menjulukinya L'enfant terrible karena semangat pemberontakan dan keberaniannya, melihatnya sebagai sekutu dalam misinya untuk membangun Gereja yang dekat dengan kaum miskin.

Setiap hari Rabu, Suster Geneviève membawa sekelompok pekerja pasar malam, para tunawisma, dan wanita transgender, yang banyak di antaranya terlibat dalam prostitusi, ke hadapan audiensi umum Vatikan. Paus Fransiskus tidak hanya menerima mereka tetapi juga mengundang mereka untuk makan siang dan menawarkan dukungan finansial.

Salah satu momen paling simbolis persahabatan mereka terjadi pada tanggal 31 Juli 2024 silam, ketika biarawati itu berhasil mengundang Paus mengunjungi taman hiburan di Ostia.

Kunjungan tersebut diselenggarakan untuk memberkati patung "Perawan Pelindung Pertunjukan dan Sirkus Keliling" dan untuk bertemu dengan para pekerja tempat pameran. Itu adalah peristiwa bersejarah yang mencerminkan kedekatannya dengan "orang-orang terakhir" di Roma.

Baca Juga: Keren! Menuju Grand Final, Finalis Putri Manggarai Bakal Dipoles Lewat Kelas Komunikasi

Gerakan yang Menggerakkan Dunia

Selama persemayaman di Basilika Santo Petrus, sementara para kardinal dan uskup mengucapkan selamat tinggal kepada Paus Fransiskus satu per satu sesuai protokol, Suster Geneviève diam-diam mendekati peti jenazah. Ia mengabaikan aturan yang menetapkan akses awal hanya untuk otoritas gerejawi.

Ia berhenti di pinggir jalan, berdoa dan menangis selama beberapa menit, beberapa sumber pun mengatakan hingga 20 menit.

Baca Juga: Kuasai Pertandingan Saat Bersua Real Madrid Blaugrana Juarai Copa del Rey

Tak seorang pun, baik Garda Swiss maupun polisi, berani mengganggunya, sebagai bentuk pengakuan diam-diam atas ikatan istimewanya dengan Paus Fransiskus.

Dengan ransel di pundaknya, biarawati bertubuh mungil ini mewujudkan momen kemanusiaan di tengah kekakuan seremonial.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X