Sejumput Kebaikan di Malam yang Lapar

photo author
Carles Marsoni, Ide Nusantara
- Jumat, 4 Juli 2025 | 05:17 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

idenusantara.com -- Langit sore itu murung, seolah mencerminkan isi hati Raka yang sudah hampir putus asa. Langkah kakinya lambat menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Wajahnya letih, bajunya kusut, dan perutnya perih karena hanya diisi air putih sejak pagi. Hari ini adalah hari keempat ia mencari pekerjaan dari perusahaan ke perusahaan, dari toko ke toko, semua berakhir dengan senyuman kaku dan kata yang tak pernah berubah: "Maaf, belum ada lowongan."

Sinar lampu mulai menggantikan cahaya matahari. Malam menjelma, menyelimuti kota dengan kesunyian. Di pojok sebuah gang kecil, Raka melihat warung nasi sederhana yang masih buka. Ia merogoh kantong celananya sisa uang terakhir, cukup untuk satu porsi nasi dengan telur dadar. Ia duduk pelan, menahan rasa malu karena penampilannya yang seadanya, dan memesan.

“Nasi telur, Bu… pakai sambal sedikit aja,” ucapnya lirih.

Pemilik warung, seorang ibu paruh baya, hanya mengangguk dan menyajikan makanan itu tanpa banyak tanya. Ia sudah sering melihat wajah-wajah seperti Raka, orang-orang yang lelah, lapar, tapi masih menyimpan secercah harapan di mata mereka.

Raka menatap piring berisi nasi telur dadar hangat, dan sambal merah yang menggoda. Baru saja ia hendak menyuap nasi pertamanya, seekor induk kucing mendekat perlahan dari bawah meja. Tubuhnya kurus dan bulunya kusut. Mata yang berbicara tanpa kata, memohon tanpa suara.

Awalnya Raka mengabaikan. Tapi saat kucing itu terus menatap tanpa bergerak, ia merasakan sesuatu mengoyak di dadanya. Dengan setengah ragu, ia memotong telur dadarnya dan memberikan separuhnya kepada si kucing.

"Ini ya... buatmu. Aku masih punya separuh," bisiknya pelan.

Si kucing tak langsung memakan. Ia menggigit potongan telur itu, lalu membawanya lari kecil ke balik tumpukan kardus tak jauh dari warung. Raka penasaran, ia berdiri pelan dan mengikuti dari kejauhan. Dan di situlah ia melihatnya, tiga anak kucing kecil, kurus dan gemetar, yang menyambut ibunya dengan ekor melambai. Sang induk menjatuhkan potongan telur di tengah mereka, dan anak-anaknya menyantapnya dengan lahap.

Raka terdiam, dadanya sesak. Separuh telur yang ia berikan ternyata tidak dimakan oleh si induk, tapi diberikan untuk anak-anaknya yang kelaparan. Air matanya menetes pelan tanpa suara. Ia kembali ke meja, menatap setengah potong telur yang tersisa, lalu mengambilnya kembali... dan menyusul ke arah kardus.

"Ambillah semua. Kalian lebih butuh daripada aku," katanya, meletakkan sisa telur di depan kardus itu.

Saat ia kembali ke warung, ibu pemilik warung menatapnya lama. Lalu ia pergi ke dapur dan kembali membawa dua potong gorengan, satu tahu dan satu tempe.

“Ini, Mas. Tambahan dari saya, nggak usah dibayar. Lha wong saya lihat sendiri kebaikan sampean tadi,” ucapnya dengan nada tulus.

Raka sempat ingin menolak, tapi ibu itu menatapnya dengan tegas. Akhirnya ia mengangguk pelan, mengucap terimakasih dan makan dengan tenang. Nasi, sambal, dan dua gorengan sederhana namun saat itu, rasanya adalah yang paling nikmat dalam hidupnya.

Sementara itu, induk kucing kembali dan duduk di dekat kakinya. Ia menggesekkan kepalanya perlahan, lalu duduk diam, seolah mengucapkan “terima kasih” dengan cara yang hanya bisa dimengerti oleh hati.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Carles Marsoni

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

5 Manfaat Bangun Pagi yang Terbukti Secara Ilmiah

Senin, 12 Januari 2026 | 22:40 WIB

Sejumput Kebaikan di Malam yang Lapar

Jumat, 4 Juli 2025 | 05:17 WIB

Bahaya Tidur Kurang dari 7 Jam Sehari

Jumat, 13 Juni 2025 | 07:36 WIB

Manfaat Bangun Pagi untuk Fisik dan Mental

Senin, 19 Mei 2025 | 05:12 WIB
X