Keesokan paginya, cahaya matahari menerobos masuk melalui celah-celah jendela kamar kontrakan kecil tempat Raka tinggal. Meski sederhana, pagi itu terasa berbeda. Udara terasa lebih segar, dan ada kehangatan di hatinya yang sulit dijelaskan. Ia belum memiliki rencana pasti untuk hari ini selain kembali mencari pekerjaan. Namun entah mengapa, ia tidak merasa seputus asa hari-hari sebelumnya.
Sambil menyeduh kopi sachet terakhir yang ia miliki, ponselnya yang sudah jarang berdering tiba-tiba menyala. Di layar terpampang nomor tak dikenal. Raka mengangkatnya dengan sedikit ragu.
“Halo, selamat pagi. Ini dengan Raka, ya?”
“Iya, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?”
“Saya Bapak Andre, dari PT Mitra Teknologi Nusantara. Kami meninjau kembali lamaran Anda, dan setelah diskusi internal, kami memutuskan untuk menerima Anda bekerja di posisi administrasi. Apakah Anda masih bersedia bergabung?”
Raka terdiam. Hatinya seperti berhenti berdetak sejenak. Ini bukan mimpi, kan?
“Bapak… maaf, saya diterima?”
“Ya, Pak Raka diterima. Kami tertarik dengan semangat Anda, dan kami lihat Anda datang langsung ke kantor kemarin, padahal tidak ada jadwal wawancara. Itu menunjukkan inisiatif dan kesungguhan. Gajinya sesuai UMR plus tunjangan. Anda bisa mulai hari Senin depan.”
Suara di seberang terus berbicara, tapi Raka tak lagi fokus. Air mata kembali mengalir, tapi kali ini bukan karena sedih. Ia menunduk, menggenggam ponsel erat-erat, dan mengucap lirih, “Alhamdulillah…”
Setelah telepon itu, Raka duduk lama di lantai, termenung. Ia teringat kejadian semalam tentang telur dadar, anak-anak kucing, dan ibu warung yang dengan tulus memberikan dua potong tahu dan tempe. Satu malam yang sederhana, tapi mungkin jadi titik balik dalam hidupnya.
Sore harinya, ia kembali ke warung itu, bukan untuk makan, tapi untuk mengucapkan terima kasih. Ibu warung menyambutnya dengan senyum hangat.
“Lho, Mas Raka... kok mampir lagi?”
Raka tersenyum, matanya berbinar.
“Saya diterima kerja, Bu. Di perusahaan yang saya lamar kemarin. Terima kasih ya, Bu, karena semalam sudah bantu saya dengan gorengan itu. Rasanya seperti dikasih harapan baru.” katanya
Ibu warung menepuk bahu Raka, matanya ikut berkaca-kaca. “Rezeki itu misteri, Mas. Kadang datangnya lewat seekor kucing, kadang lewat sepotong tempe.” ucapnya