PDIP Nilai Gelar Pahlawan Soeharto Abaikan Sejarah Kelam

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Rabu, 12 November 2025 | 21:53 WIB
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira (Foto: S. Nusantara)
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira (Foto: S. Nusantara)

Ia menilai, pemberian gelar kepada Soeharto justru berpotensi membuka luka lama bagi korban dan keluarga yang terdampak pelanggaran HAM di masa lalu.

“Pemerintah seharusnya mendengarkan aspirasi masyarakat, bukan justru menutup telinga terhadap kritik dan sejarah kelam bangsa,” tambah Andreas.

Ia juga mengingatkan bahwa semangat reformasi yang lahir setelah tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998 seharusnya menjadi pijakan moral dalam menentukan siapa yang layak mendapat gelar Pahlawan Nasional.

Baca Juga: Hadirkan Dedikasi Penuh Untuk Masyarakat Manggarai Timur, Yayasan Sahabat Pedalaman Bangun Jembatan di Wae Mapar

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dalam upacara Hari Pahlawan di Istana Negara pada 10 November 2025.

Keputusan ini memicu pro dan kontra di publik, terutama dari kalangan aktivis HAM, akademisi, dan tokoh reformasi yang menilai langkah tersebut sebagai kemunduran dalam upaya menjaga memori kolektif bangsa atas sejarah kelam masa lalu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X