Demokrasi dan Tanggung Jawab Rakyat: Memilih Dengan Hati Nurani

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Senin, 9 Juni 2025 | 05:19 WIB
Hefri Persly
Hefri Persly

Oleh: Lucianos De Hefrianto Persli,
Mahasiswa Sosiologi universitas Muhammadiyah Kupang

 

OPINI, Idenusantara.com-Secara etimologis, kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani, yaitu demos yang berarti “rakyat” dan kratos yang berarti “kekuatan” atau “pemerintahan”. Jika digabungkan, demokrasi bermakna “kekuasaan rakyat”.

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan di mana keputusan-keputusan penting—baik secara langsung maupun tidak langsung—dibuat berdasarkan kesepakatan mayoritas yang diberikan secara bebas oleh rakyat. Dalam sistem ini, rakyat memegang kekuasaan tertinggi dan menjadi penentu arah kebijakan negara.

Salah satu ciri utama demokrasi adalah pelaksanaan pemilihan umum yang bebas, jujur, dan adil. Dalam proses ini, rakyat memiliki hak untuk memilih pemimpin mereka, baik di tingkat nasional seperti Presiden, maupun di tingkat daerah seperti Gubernur, Bupati, Wali Kota, hingga Kepala Desa. Pemilihan dilakukan berdasarkan suara hati nurani, bukan karena tekanan, iming-iming, atau kepentingan sesaat.

Demokrasi identik dengan prinsip “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Artinya, suara rakyat memiliki peran penting dalam menentukan masa depan daerah bahkan bangsa secara keseluruhan.

Namun demikian, dalam praktiknya, demokrasi sering kali dihadapkan pada tantangan. Tidak jarang masyarakat memilih pemimpin berdasarkan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu, bukan karena integritas atau kapabilitas calon tersebut. Pemimpin seperti ini cenderung mengabaikan kepentingan masyarakat luas, yang dapat menyebabkan kesenjangan sosial, ekonomi, dan budaya. Akibatnya, berbagai persoalan seperti kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan sulit diatasi.

Di era modern saat ini, beberapa pemimpin bahkan memanfaatkan kekuasaan politik untuk melegalkan kepentingan mereka melalui konstitusi dan penerapan hukum yang tumpul terhadap sesama elit kekuasaan. Hal ini mencederai semangat demokrasi dan merusak kepercayaan publik terhadap pemerintahan.

Jika pola pikir seperti ini terus berkembang di kalangan masyarakat, maka kemajuan bangsa akan sulit dicapai. Oleh karena itu, demi mewujudkan kesejahteraan, kemakmuran, dan kemajuan dalam pembangunan serta teknologi, rakyat harus bertanggung jawab secara moral dan intelektual dalam menggunakan hak pilihnya.

Rakyat yang Bertanggung Jawab Akan Memilih Pemimpin yang:

1. Mendengarkan dan menghargai aspirasi rakyat;

2. Mengutamakan kepentingan masyarakat secara luas;

3. Tidak mementingkan kepentingan pribadi, jabatan, atau kelompok tertentu.

Selain itu, rakyat juga harus bersikap kritis terhadap isu-isu sosial dan politik yang berkembang. Dengan menjadi masyarakat yang cerdas dan sadar informasi, rakyat tidak akan mudah terjebak oleh retorika indah atau janji manis yang menyesatkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X