Idenusantara.com-Inflasi sering kali hanya dipandang sebagai deretan angka persentase dalam laporan bulanan bank sentral. Namun, di balik definisi teknis tersebut, tersembunyi sebuah realitas ekonomi yang memukul langsung kantong masyarakat: inflasi beroperasi bagaikan "pajak tersembunyi". Secara diam-diam, fenomena ini menggerus daya beli tanpa memerlukan persetujuan legislatif maupun pungutan resmi.
Secara teknis, penyusutan ini berkaitan erat dengan konsep seigniorage. Ketika pasokan uang beredar di masyarakat bertambah tanpa diimbangi oleh kapasitas produksi barang dan jasa yang memadai, nilai riil uang tersebut otomatis merosot. Masyarakat pada akhirnya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli kebutuhan pokok yang sama. Selisih daya beli yang hilang inilah yang secara efektif memindahkan kekayaan dari tangan pemegang uang tunai.
Baca Juga: Menguji Batas Etika dan Hukum di Balik Kendaraan SPPG Berlogo Yayasan Prabowo
Korban Utama Penyusutan Nilai
Dampak dari beban tak kasatmata ini tidak terdistribusi secara merata. Ada kelompok rentan yang harus memikul beban paling berat saat nilai uang merosot:
Pekerja Berpendapatan Tetap dan Pensiunan: Stagnasi upah sering kali tidak mampu mengejar laju kenaikan harga kebutuhan dasar, membuat porsi pengeluaran mereka semakin membengkak.
Masyarakat Miskin: Mayoritas pendapatan kelompok ini dihabiskan untuk konsumsi harian (pangan dan energi) yang sangat rentan terhadap volatilitas harga.
Penyimpan Uang Tunai: Memarkir kekayaan dalam bentuk tunai atau instrumen tabungan berbunga sangat rendah memastikan bahwa nilai kekayaan tersebut akan terus menyusut dari tahun ke tahun.
Kreditur (Pemberi Pinjaman): Nilai uang yang mereka terima kembali di masa depan telah kehilangan daya beli aslinya jika bunga pinjaman berada di bawah laju inflasi.
Baca Juga: Kami Tak Butuh Makan Gratis!: Paradoks Deforestasi Papua dan Kerinduan akan Pendidikan
Sisi Lain Koin: Mereka yang Diuntungkan
Meski menjadi momok bagi sebagian besar masyarakat, dinamika inflasi justru memberikan ruang keuntungan matematis bagi pihak tertentu. Para peminjam (debitur) secara efektif melunasi utang lama mereka dengan nilai uang yang sudah "lebih murah" di masa depan.
Selain itu, pemilik bisnis dan aset produktif memiliki fleksibilitas untuk menaikkan harga jual produk atau sewa aset mereka sejalan dengan inflasi, sehingga margin keuntungan mereka tetap terlindungi.