(Oleh: Hefri Persly)
Idenusantara.com-Dalam keseharian, kita sering menjumpai orang-orang baru. Tak jarang pula, kita selalu bersama kerabat dan sahabat sejak masa lalu hingga kini. Proses interaksi antarsesama menjadi fondasi utama kita sebagai individu yang memiliki cita-cita dan harapan untuk meraih kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Setiap orang memiliki masanya, dan setiap masa memiliki orang-orangnya—entah itu masa kejayaan atau masa penantian. Namun, pada intinya, kita semua sedang menanti. Dalam kehidupan ini, perlombaan sejati terjadi ketika kita menyaksikan segelintir orang bersaing untuk meraih kekuasaan. Mereka datang dengan semangat dan ambisi yang berbeda: ada yang haus akan kekuasaan, ada pula yang hadir dengan niat tulus untuk merombak sistem yang merugikan masyarakat.
Baca Juga: RD. Herman Ando Wafat, Pemkab Manggarai Sampaikan Duka Cita Mendalam
Di suatu wilayah tertentu, tersedia panggung yang megah untuk menunjukkan potensi setiap individu, baik secara moral, intelektual, maupun material. Namun sayangnya, mereka yang hadir dengan niat tulus dan bermodal nilai sering kali tersingkir oleh kekuatan material yang menghegemoni, membungkam perlahan tanpa perlawanan yang sepadan.
Seiring waktu, panggung kompetisi itu bisa lenyap seketika, seperti bara panas yang disiram air mendidih. Mereka yang menang akan merayakan dengan menghamburkan materi, baik sebelum maupun sesudah kompetisi. Ini bukan lagi fenomena baru, melainkan sebuah pola lama—produk sejarah—yang tumbuh subur dari masa ke masa dan tetap eksis hingga hari ini.
Baca Juga: Ribuan PPPK Tahap I di Manggarai Resmi Diangkat, Bupati Tekankan Integritas dan Kontribusi Nyata
Sebagai masyarakat, kita hanya menginginkan yang terbaik dari para penguasa yang telah kita beri mandat melalui proses demokrasi. Harapan kita tidak banyak: cukup penuhi hak dan kewajiban sebagai pemimpin. Sayangnya, kepercayaan terhadap para penguasa saat ini seolah telah pudar, sirna, bahkan runtuh.
Sering kali, para penguasa diidentikkan dengan sifat kapitalis yang hanya mengutamakan kepentingan golongan mereka—kaum borjuis yang telah tersusun secara rapi dan terstruktur. Ini adalah kekuatan besar yang sulit dilawan jika kita masih terpecah dan belum merapatkan barisan.
Kebijakan yang dikeluarkan tidak berpihak pada kaum kecil atau masyarakat proletar. Kita hanya dijadikan alat eksploitasi bagi mereka yang mempunyai modal. Ini merupakan suatu paradoks yang seolah selalu digaungkan oleh kaum kapital, seakan membudaya. Orang-orang yang pada hari ini meneriakkan keadilan adalah kita yang haus akan keadilan, dan pada kita—masyarakat yang lapar.
Namun sangat disayangkan, mereka yang sudah kenyang malah merampas habis-habisan makanan milik kita yang lapar. Teriakan di jalanan itu pun tidak pernah muncul, dan sangat mustahil ada pada mereka yang kenyang dan tertutup hatinya oleh kekuasaan.
Kita sering kali tidak sadar dengan eksploitasi yang digarap secara perlahan, seolah-olah sudah tersusun rapi caranya. Kita seakan merasa cukup puas dengan upah yang diberikan, namun nyatanya kita salah. Ini hanyalah sekadar strategi belaka yang dibuat untuk memanjakan saja.
Selama kita belum menyatukan tekad, kita akan tetap kalah. Maka, satu kata yang harus kita gaungkan bersama: LAWAN. Dengan semangat perjuangan yang kokoh, dan merombak pola-pola lama yang sering menjatuhkan kita, karena satu-satunya cara untuk mengubah keadaan adalah merapikan barisan perlawanan dengan berpikir serta bertindak demi kepentingan bersama yang lebih makmur, maju, dan sejahtera.