OPINI-Idenusantara.com-Pernyataan kontroversial Bupati Kupang yang menyebut dirinya sebagai “wakil Tuhan” menuai reaksi keras dari aktivis Manggarai Barat, Djohanes. Dalam sebuah wawancara menanggapi pemberitaan EXPONTT, Djohanes menyampaikan kritik tajam yang menyentak publik.
“Jangan mencalonkan diri sebagai wakil Tuhan. Tuhan tidak pernah menyebut nama Anda jadi wakil-Nya!” tegas Djohanes.
Pernyataan ini muncul sebagai respons atas pernyataan Bupati Kupang pada 15 Mei 2025 lalu yang menyatakan niatnya untuk merelokasi warga Pulau Kera dengan dalih kemanusiaan.
“Saya mau bikin yang baik. Kita mau sediakan tempat yang layak—rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, dan air. Tanpa kepentingan lain, ini murni untuk kemanusiaan,” ujar sang bupati.
Namun, Djohanes menilai pernyataan itu tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
“Kalau niatnya kemanusiaan, kenapa masyarakat selalu diintimidasi? Kenapa warga Pulau Kera harus dipaksa pindah dari tanah mereka sendiri? Kalau benar niat baik, seharusnya dicari solusi tanpa harus merenggut tempat hidup mereka!” katanya geram.
Ia bahkan menduga adanya kepentingan tersembunyi di balik proyek relokasi tersebut.
“Kalau masih keras kepala dengan relokasi, berarti ada yang disembunyikan. Kepentingan siapa yang sebenarnya sedang diperjuangkan?”
Tak hanya Bupati Kupang, Djohanes juga menanggapi pernyataan mantan Ketua DPRD Kabupaten Kupang yang menyebut relokasi penting agar anak-anak bisa sekolah dan warga bisa akses layanan kesehatan.
“Faktanya, warga Pulau Kera sudah bangun sekolah sendiri. SD dan MTS itu lahir dari keringat dan gotong royong mereka, bukan dari bantuan pemerintah! Itu bukti nyata bahwa rakyat tidak butuh belas kasihan, tapi butuh keadilan!”
Djohanes kemudian menyerukan agar rencana relokasi warga Pulau Kera segera dibatalkan. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan bukanlah alat pemaksaan, apalagi atas nama Tuhan.
“Saya minta pemerintah Kabupaten Kupang hentikan pemaksaan relokasi ini. Mereka bukan objek proyek—mereka manusia! Dan ingat baik-baik: suara rakyat adalah suara Tuhan!”
(Ket: Segala bentuk isi dalam Opini ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab Penulis)