Selayaknya cermin, dia akan menampilkan kembali apa yang telah tampil di depannya dengan suatu kecepatan yang tak terukur oleh pikiran manusia.
Di Danau Rana Mese, saya kemudian menyadari bahwa apa yang telah diungkapkan oleh sang filsuf itu benar adanya.
Pada sisi yang lain, jernihnya air danau Rana Mese merupakan cerminan dari pikiran yang tenang, sedang hutan yang rimbun adalah simbol kehidupan yang berkelanjutan.
"Lalu bagaimana ketika alamnya rusak?" Pertanyaan itu sengaja saya lontarkan tatkala melihat seekor kupu-kupu yang hinggap pada ujung ranting nanti rapuh
"Maka apa yang tercermin adalah keserakahan dan ketidakpedulian,", seakan begitulah dia menjawab.
Ancaman yang Tak Bisa Diabaikan
Pembangunan infrastruktur memang penting, tapi apakah harus mengorbankan paru-paru bumi?
Di Kalimantan, hutan-hutan primer dikonversi untuk tambang dan lokasi proyek food estate. Di Papua, proyek jalan trans-Papua yang juga proyek food estate mengancam ekosistem endemik.
Di sini, di NTT, persoalan geothermal muncul pasca penetapan pulau Flores sebagai pulau panas bumi. Isu ekologis mulai mencuat.
Pertambangan nikel di Raja Ampat yang menggemparkan seantero Indonesia bahkan dunia.
"Kami tidak anti-pembangunan, tapi kami ingin pembangunan yang tidak memutus generasi mendatang dari hak mereka merasakan alam," kata seorang aktivis lingkungan.
Jangan sampai suatu saat nanti kita baru akan menyadari bahwa benar apa yang dikatakan Gorbatscow, orang komunis itu bahwa "orang terlambat dihukum oleh sejarah".
Kita tidak dapat menyangkal diri bahwa sebagai subjek sejarah dunia, kita bertindak untuk menjadi bebas dan damai sekaligus sebagai pengacau kedamaian itu (hal ini berkaitan dengan ketidaksadaran, mengerut hasil bumi tanpa berpikir sedang memotong tali nyawa di kemudian hari)
Kembali ke Mode Awal