Empat hari saya berada di Desa Wonda, Kecamatan Ndori, Kabupaten Ende, dalam kegiatan Abdi Masyarakat (Abdimas) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Flores (Uniflor). Meski tidak lama, desa ini meninggalkan kesan yang hangat dan mendalam. Di antara semua yang saya temui, satu sosok yang paling membekas di benak saya adalah Romo Felix Jawa.
Romo dengan gelar S3 (Selalu¹ Sendiri² Saja³) heheee....
Romo Felix bukanlah tipe imam yang kaku. Ia hadir sebagai gembala yang benar-benar hidup bersama umatnya. Saya melihat sendiri bagaimana ia menyapa dengan ringan, tertawa dengan tulus, dan berbicara dengan penuh semangat tentang pendidikan, pelayanan, dan kemanusiaan.
Yang paling saya kenang dari Romo Felix adalah momen-momen kecil ketika saya bersama tiga orang teman bertandang ke pastoran. Setiap kali kami berkunjung atau sekedar singgah, beliau selalu menyuguhkan teh hangat dan Pisang. Suguhan yang sederhana, namun terasa begitu istimewa, mungkin karena disertai dengan suara lembutnya yang khas saat menyapa:
“Inung, g kraeng…”
Saya tersenyum setiap kali mengingatnya. Sederhana, akrab, dan tulus. Saya selalu menjawab, “Inung, Romo,” sambil tertawa kecil. Tapi dibalik suguhan itu, saya merasa betul: beliau bukan hanya memberi teh dan pisang, tapi menghadirkan perhatian, kehangatan, dan kebersamaan yang tidak dibuat-buat.