Nama Romo Felix kini semakin dikenal luas. Ia sering dijuluki sebagai imam yang merakyat dan penuh talenta. Dalam artikel IndonesiaSatu.co (12 Juni 2025), dikisahkan bagaimana Romo Felix atau “Pemuda Feliks” pernah tampil duet dengan Ita Purnamasari dan Viktor Hutabarat . Gayanya yang santai, berkumis khas, dan suaranya disebut “suara emas”. Apalagi ketika Ita menghadiahkan kecupan manis di panggung, yang hadir hanya bisa berdecak kagum dan berkata:
“Itu rejeki Romo pemilik suara emas.”
Namun lebih dari sekadar tampil di panggung, Romo Felix adalah pribadi yang sungguh-sungguh hadir bagi masyarakat. Ia tidak hanya mewartakan Injil dari mimbar sabda, tapi juga dari mimbar kehidupan. Salah satu bentuk nyatanya adalah pendirian SMK Restorasi Santo Fransiskus Asisi Wonda , sebuah sekolah kejuruan yang menjadi harapan baru bagi anak-anak muda di wilayah ini. Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tapi juga ladang masa depan bagi mereka yang ingin bertahan dan berkembang di kampung sendiri.
Bersama Romo Felix , saya belajar bahwa menjadi imam bukan soal bicara di altar, tapi soal menyatu dengan realitas kehidupan umat. Menjadi pemimpin bukan sekedar berdiri di atas, namun hadir di tengah, berjalan bersama, dan menguatkan dari dalam.
Empat hari mungkin terlalu singkat untuk mengenal seorang tokoh. Tapi cukup bagi saya untuk belajar dari keteladanan kecil: dari teh hangat, dari pisang di atas meja kayu, dari senyuman yang tak pernah dibuat-buat, dan dari sapaan lembut: