opini

Politik Tanpa Prinsip, Anomali Moralitas dalam Demokrasi Kekinian

Selasa, 23 September 2025 | 16:54 WIB

Opini oleh Dionisius Upartus Agat

Opini ini akan mengkaji secara mendalam bagaimana politik tanpa prinsip terwujud dalam praktik politik hari ini dan implikasinya terhadap kohesi sosial serta stabilitas demokrasi.

Ruteng, Idenusantara.com - Mahatma Gandhi, seorang filsuf politik yang pemikirannya melampaui zaman, pernah menyatakan Tujuh Dosa Sosial sebagai cerminan keruntuhan moral sebuah peradaban.

Di antara tujuh dosa tersebut, politik tanpa prinsip adalah yang paling fundamental dan destruktif.

Dalam lanskap demokrasi kekinian, di mana pragmatisme sering kali mengalahkan idealisme, dosa ini telah bermetamorfosis menjadi sebuah anomali yang menggerogoti pondasi etika bernegara.

Opini ini akan mengkaji secara mendalam bagaimana politik tanpa prinsip terwujud dalam praktik politik hari ini dan implikasinya terhadap kohesi sosial serta stabilitas demokrasi.

Pergeseran Paradigma: Dari Etika Menuju Transaksi

Secara teoretis, politik seharusnya berfungsi sebagai instrumen untuk mencapai kebaikan bersama (bonum commune), sebuah konsep yang telah diperjuangkan sejak era filsuf klasik seperti Aristoteles yang memandang politik sebagai seni membangun masyarakat yang adil dan bermoral.

Namun, seiring waktu, terjadi pergeseran paradigma yang signifikan dan merusak.

Politik tidak lagi dipandang sebagai panggilan luhur yang membutuhkan pengorbanan dan integritas, melainkan sebagai arena kompetisi di mana kekuasaan adalah komoditas dan prinsip-prinsip dapat dinegosiasikan.

Fenomena ini tercermin jelas dari perilaku para politisi kekinian yang cenderung pragmatis dan instan.

Mereka dengan mudahnya berpindah haluan, mengkhianati janji, dan membentuk koalisi yang tidak logis demi mempertahankan kursi dan kekuasaan.

Integritas dan konsistensi ideologi menjadi barang langka di tengah hiruk-pikuk politik transaksional, di mana kesepakatan dibuat berdasarkan hitungan keuntungan jangka pendek, bukan visi jangka panjang untuk bangsa.

Politisi saat ini seolah berperilaku seperti bunglon, yang mengubah warna mereka sesuai dengan lingkungan politik yang menguntungkan.

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB