opini

Menggugat Budaya Diam: Perempuan sebagai Mitra Setara dalam Terang Mulieris Dignitatem

Jumat, 26 September 2025 | 19:57 WIB
Efrida Anna Sukarti Jou (Mahasiswa STIPAS Santo Sirilus Ruteng)

Dalam seruan ensiklik dan apostolik, ditegaskan bahwa perempuan memiliki martabat yang setara dengan laki-laki.

Paus Yohanes Paulus II dalam Mulieris Dignitatem menekankan bahwa perempuan adalah individu utuh, bukan separuh manusia.

Mereka memiliki martabat, akal, kehendak bebas, dan hak yang setara untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat juga dalam Gereja.

Jika masih ada budaya atau kebiasaan yang memposisikan perempuan sebagai pihak kedua, maka budaya tersebut bertentangan dengan ajaran yang memicu kebangkitan.

Ajaran ini mengajak kita untuk memandang perempuan sebagai mitra yang setara dengan laki-laki dalam upaya keselamatan yang diusung oleh Allah.

Namun, masalah ini cukup rumit. Di mana kita sudah dibelenggu oleh budaya patriarki yang sudah lama mengakar dalam kehidupan kita.

Banyak yang menganggap bahwa tidak melibatkan perempuan adalah hal yang normal. Ada pula yang menjadikan diamnya perempuan sebagai indikator bahwa mereka tidak memahami topik yang dibahas.

Di sisi lain, kita juga tidak boleh lupa bahwa perempuan sendiri harus memiliki keberanian untuk melangkah.

Selama hanya menunggu untuk dipanggil, kesempatan tidak akan datang. Perempuan perlu mulai bersuara, sekecil apapun, di dalam keluarga, komunitas, ataupun masyarakat secara umum.

Keberanian untuk bersuara adalah langkah pertama untuk beralih dari posisi penonton ke pemain.

Memang, ini bukanlah perkara mudah, karena ada ketakutan akan penolakan, kemungkinan dianggap sebagai orang yang lancang, bahkan ada risiko kemarahan.

Namun, tanpa keberanian tersebut, perubahan dalam diri kita tidak akan pernah terjadi.

Kita dapat menemukan beberapa contoh positif di berbagai wilayah, di mana perempuan telah dipercaya untuk memimpin sebagai kepala desa, anggota dewan, dan bahkan sebagai pemimpin organisasi adat.

Mereka membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi pemimpin sambil tetap berhati-hati dalam membuat keputusan.

Kehadiran perempuan juga memberikan inspirasi, tidak hanya untuk perempuan lainnya, tetapi juga untuk laki-laki yang belajar untuk melihat dunia dengan perspektif yang lebih luas.

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB