opini

Kesetaraan Ruang Bagi Perempuan, Mengurai Diskriminasi dan Kesenjangan dalam Realitas Sosial

Sabtu, 27 September 2025 | 22:25 WIB
Yasinta Daus (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Penulis: Yasinta Daus (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Ruteng, Idenusantara.com - Isu kesetaraan gender sudah lama menjadi bagian dari wacana publik, namun hingga hari ini, perempuan masih kerap dihadapkan pada keterbatasan ruang untuk berkembang, baik dalam kehidupan sosial, budaya, politik, maupun ekonomi.

Padahal, sejarah telah menunjukan bahwa perempuan memiliki kontribusi yang besar dalam membangun masyarakat.

Dari peran mereka dalam keluarga hingga kiprah mereka di dunia professional, perempuan membuktikan diri sebagai subjek penting yang mampu mendorong perubahan.

Namun sayangnya, ruang yang kita miliki seringkali sempit, terbatas, bahkan dipersempit oleh konstruksi sosial yang patriarkis.

Kini, kita tidak lagi bisa menunda. Sudah waktunya menyediakan ruang yang setara bagi perempuan, bukan sebagai wujud belas kasihan, melainkan sebagai bentuk pengakuan atas hak asasi, martabat, potensi yang mereka miliki.

Jika kita menengok ke lapangan, data dan fakta berbicara banyak.

Menurut laporan Indeks Pembangunan Gender (IPG), Indonesia mengalami peningkatan dari 91,63 pada tahun 2022 menjadi 91,85 pada 2023.

Di Indonesia, meskipun angka partisipasi sekolah bagi perempuan meningkat, masih ada bias yang membatasi mereka pada pilihan-pilihan tertentu, misalnya diarahkan hanya pada jurusan yang dianggap sesuai untuk perempuan.

Di dunia kerja, kesenjangan upah antara laki-laki dan perempuan tetap menjadi persoalan klasik. Perempuan sering kali dibayar lebih rendah meski memiliki posisi dan kinerja yang sama.

Bahkan, banyak yang mengalami diskriminasi ketika hamil atau setelah melahirkan,dianggap tidak produktif, dan akhirnya kehilangan kesempatan promosi.

Di bidang politik, representasi masih jauh dari proporsi ideal. Kuota 30% keterwakilan perempuan di parlemen misalnya, lebih sering dilihat sebagai formalitas.

Perempuan yang berhasil duduk di kursi legislatif pun kerap mendapat tantangan ganda, selain memperjuangkan aspirasi rakyat.

Situasi ini menjadi bahan refleksi bagi kaum perempuan untuk membuktikan diri layak bersaing dan berada di ruang yang masih didominasi laki-laki.

Halaman:

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB