opini

Dari Jalanan ke Meja Bundar: Inklusi Sosial sebagai Fondasi dan Solusi Konflik Indonesia

Jumat, 3 Oktober 2025 | 20:36 WIB
Igasius Lasa (Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Dan ketika jalanan menjadi satu-satunya kanal aspirasi, gesekan dengan aparat atau pihak berlawanan tinggal menunggu waktu. Karena itulah, inklusi sosial adalah jawaban penting: ia meredam bara sebelum menjadi api.

Dari Jalanan ke Meja Bundar

Metafora “jalanan ke meja bundar” adalah ajakan untuk mengubah paradigma. Jalanan melambangkan konfrontasi, benturan, bahkan kadang kekerasan.

Meja bundar, sebaliknya, melambangkan kesetaraan, dialog, dan pencarian solusi bersama.

Di meja bundar, tidak ada kursi yang lebih tinggi atau lebih rendah, tidak ada suara yang lebih dominan hanya karena status atau kekuasaan. Semua duduk sama rendah, bicara sama penting.

Jika konflik di jalanan sering berakhir dengan kerusakan fasilitas publik, luka-luka, bahkan korban jiwa, maka meja bundar memberi harapan bahwa konflik bisa diselesaikan lewat kata-kata, bukan batu dan gas air mata.

Tapi tentu, meja bundar bukan sekadar simbol. Ia membutuhkan kemauan politik, komitmen moral, dan keberanian untuk membuka ruang dialog.

Bayangkan jika setiap kebijakan besar — mulai dari rencana pembangunan kota, proyek industri, sampai isu pendidikan — lebih dulu dibicarakan dengan melibatkan masyarakat terdampak.

Bayangkan jika suara nelayan, petani, pekerja, atau mahasiswa benar-benar masuk dalam rumusan kebijakan, bukan sekadar formalitas konsultasi publik.

Mungkin jalanan akan lebih sepi dari demonstrasi, dan ruang dialog akan lebih ramai dengan gagasan.

Peran Pemerintah dan Masyarakat: Dari Penguasa ke Pelayanan Publik

Dalam peta inklusi sosial, pemerintah memegang peranan penting. Pemerintah bukan hanya regulator, tetapi juga fasilitator yang harus memastikan bahwa kebijakan tidak diskriminatif dan bisa diakses semua warga.

Tugas ini tidak mudah, sebab inklusi sering kali berbenturan dengan kepentingan ekonomi-politik jangka pendek.

Namun, ada banyak contoh baik. Program perlindungan sosial yang semakin merata, layanan publik yang lebih ramah disabilitas, hingga kebijakan afirmatif untuk pendidikan kelompok miskin adalah langkah-langkah inklusi yang nyata.

Tantangannya adalah konsistensi. Sebab, terlalu sering kita mendengar kebijakan bagus yang hanya berhenti di kertas, tanpa pengawasan dan evaluasi yang ketat di lapangan.

Pemerintah juga harus belajar untuk lebih sabar mendengar. Aspirasi yang muncul di jalanan sering kali adalah “alarm keras” bahwa ada yang salah di bawah.

Daripada meredam suara dengan kekuatan, lebih baik membuka ruang dengan kebijakan dialogis. Di sinilah pemerintah perlu bergeser: dari mentalitas penguasa menjadi pelayan publik.

Halaman:

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB