Sedangkan kaum bapak tak perlu ditanya, mereka terlihat cukup santai ketika menyambut natal. Namun otaknya tak sesantai itu, mereka mesti memikirkan bagaimana dana untuk merayakan natal tersebut. Mulai dari modal membuat kue hingga untuk membeli baju untuk sekeluarga.
Semua itu menunjukan betapa antusianya umat kristiani menyambut lahirnya Isa Almasih yang diutus Allah untuk menebus dosa manusia.
Di sini saya tidak merasakan ataupun menyaksikan hal tersebut. Hingga saya merasa natal serasa hampa. Di sini saya tidak melihat kandang natal yang diisi manusia bukan patung kelahiran Yesus. Tak mendengar lagu natal dari rumah tetangga. Saya sendiri pun jarang sekali membuka lagu natal entah karena kesibukan ataupun hal lain.
Ketika merantau saya menjadi anti dengan lagu “ Kenangan Natal di Dusun yang Kecil” yang dipopulerkan Charles Hutagalung dan Tissia. Saya tak akan memasukan lagu tersebut ke playlist lagu natal saya. Bukan karena benci sama penyanyi ataupun tak suka lagunya. Namun karena liriknya yang sangat merepresentasikan apa yang saya rasakan. Mungkin pembaca yang budiman juga merasakan hal yang sama. Saya tak akan mampu menahan air mata ketika mendengar lagu tersebut. Lagu natal yang dipopulerkan Mitha Talahatu juga menjadi lagu yang membawa kerinduan.
Saya rindu natal di sana kampung kecil yang sederhana, rindu ocehan ibu-ibu memarahi anaknya yang tak pulang karena mabuk di kandang natal. Berebut foto di pohon natal yang ada di Gereja. Rindu semua hal yang saya lakukan ketika natal di sana. Sederhana namun akan terukir di hati. Berharap dapat secepatnya merasakan kembali suasana natal tersebut tanpa ada yang berubah. Semoga.****