opini

Tragedi Ngada; ”Yang Sering Tak Tertulis di Buku Pelajaran Kita"

Kamis, 5 Februari 2026 | 06:14 WIB
Ilustrasi anak frustrasi hingga bu**h diri dan sepucuk surat yang ditinggalkannya (Foto:Ist.net)

(Oleh Muhammad Subhan) 


OPINI, Idenusantara.com-Seorang murid kelas IV Sekolah Dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR, mengakhiri hidupnya dengan cara yang menyayat hati. Ia bunuh diri dan meninggalkan secarik surat bertulis tangan. Dugaan pemicunya adalah sebuah permintaan yang tak mampu dipenuhi orang tua, yaitu uang untuk membeli buku tulis dan pulpen.

Permintaan itu bukan karena sang ibu tak sayang atau tak peduli, semata-mata karena impitan ekonomi yang teramat membahayakan. Kehidupan mereka jauh dari kata cukup.

Tragedi kematian ini seolah menjadi noktah hitam di atas kertas putih dunia pendidikan kita, meski tragedi itu tak terjadi di sekolah. Di balik angka-angka statistik pencapaian dan gegap gempita kurikulum, terselip sebuah kenyataan yang sering kali luput dari pandangan bahwa bagi sebagian anak, alat tulis bukanlah sekadar kebutuhan teknis, melainkan tiket untuk merasa “ada” dan “setara”. Ketika tiket itu tak terbeli, dunia mereka bagai luluh lantak dalam keterpurukan yang paling dalam.

Baca Juga: Lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Bocah SD di Ngada Tewas Bunuh Diri

Tulisan ini tidak bermaksud menyalahkan siapa pun. Bukan orang tua, bukan guru, bukan sekolah, bukan pula sistem. Sebab dalam peristiwa semacam ini, saling tuding justru sering kali menutup pintu pemahaman. Yang lebih mendesak untuk kita tanyakan adalah: apa yang sesungguhnya sedang kita ajarkan, dan apa yang gagal kita dengar, dalam semesta literasi anak-anak kita, baik oleh guru maupun orang tua?

Selama ini, literasi kerap kita sederhanakan sebagai kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Kita menjanjikan peningkatan indeks literasi, maraknya lomba menulis, deretan rak buku, dan slogan “gemar membaca” serta “gemar menulis”. Namun, kasus YBR mengingatkan kita bahwa literasi bukan hanya soal teks, melainkan soal rasa, empati, dan keberpihakan.

YBR tidak hanya kekurangan buku tulis, ia juga kekurangan ruang aman untuk menyampaikan kegundahannya.

Baca Juga: Resmi, Rektor IFTK Ledalero Dr. Otto Gusti Madung Dapat Gelar Profesor dan Guru Besar

Bagi seorang anak kelas IV SD, buku tulis dan pulpen bukan sekadar alat belajar. Mereka adalah simbol. Simbol keterlibatan di sekolah, simbol “aku sama dengan teman-temanku”, dan simbol harga diri. Ketika simbol itu tak dapat digenggam, yang tergerus bukan hanya semangat belajar, tetapi juga rasa keberhargaan diri.

Anak-anak belum memiliki pemahaman emosi yang lengkap. Mereka belum pandai mengatakan, “Saya sedih,” “Saya malu,” atau “Saya merasa tertinggal.” Yang mereka pahami sering kali hanya satu: “Aku tidak mampu, dan itu salahku.”

Didalamnya literasi emosi dan empati seharusnya hadir. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat mengisi-lembar buku atau menuntut ini-itu, tetapi juga ruang di mana anak merasa aman untuk jujur ​​tentang keadaannya. Guru bukan sekadar penyampai isi sinkronisasi, melainkan “pembaca” yang peka terhadap tanda-tanda yang selalu tak tersurat tetapi lebih banyak tersirat, seperti murid yang tiba-tiba diam, menunduk, enggan bertanya, atau terlalu patuh tanpa suara.

Baca Juga: Kisah Sukses Sunny Kamengmau: Dulu Tukang Kebun Sekarang Jadi Miliarder

Literasi, dalam tafsir terdalamnya, adalah kemampuan membaca manusia dengan segala masalahnya, bukan hanya halaman buku atau keriuhan mengatasnamakan “literasi”.

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB