opini

Tragedi di Ujung Bambu: Ketika Negara Memberi "Receh", Sekolah Justru Mencekik Jutaan

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:19 WIB
Ilustrasi Tragedi di Ujung Bambu: Ketika Negara Memberi "Receh", Sekolah Justru Mencekik Jutaan (Foto: Ilustrasi LM)

Sisa Tagihan di Atas Pusara

Pernyataan pihak sekolah yang menyebut, "Ibu YBR sudah bayar tahap satu sebesar Rp 500 ribu, masih sisa Rp 720 ribu," terdengar sangat dingin di tengah suasana duka.

Uang Rp 500 ribu yang sudah dibayarkan itu—entah didapat sang nenek atau ibu dari hasil berhutang atau memeras keringat di kebun—ternyata lenyap begitu saja. Tidak menjadi jaminan kenyamanan bersekolah, tidak pula menyelamatkan nyawa YBR.

Baca Juga: Selain Minta Beli Buku dan Pena, Bupati Ngada Ungkap Sejumlah Fakta Lainnya Sebelum YBR Bunuh Diri

Kasus di Jerebuu ini adalah alarm keras bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Ngada, bahkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Jakarta. Praktik menaikkan uang komite secara sepihak dengan dalih "kesepakatan" (yang seringkali orang tua tak berdaya menolak) adalah bentuk pungutan liar yang terstruktur.

Jangan sampai ada lagi anak negeri yang merasa "sekolah" bukan lagi tempat menuntut ilmu, melainkan menjadi penagih hutang yang menakutkan bagi keluarga mereka.

Negara memberi Rp 450 ribu setahun, sekolah meminta Rp 1,2 juta. Di celah selisih angka itulah, harapan anak-anak miskin kita seringkali mati diam-diam.(Lhyna Marlina) 

Halaman:

Tags

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB