opini

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB
Yohanes Bastian Roja, Bocah SD di Ngada yang Tewas Bu**h D*ri

Idenusantara.com-Banyak followers saya menyarankan menuliskan kisah bocah SD yang bundir di kabupaten Ngada NTT. Demi followers tercinta, saya coba rangkai kisah tragisnya, sekaligus membukakan mata negara ini. Simak narasinya, berikut ini!

Di sebuah kebun cengkeh yang sunyi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, negara kehilangan seorang warganya. Warga yang belum sempat menghafal sila-sila Pancasila dengan benar. Umurnya baru sepuluh tahun. Kelas IV sekolah dasar. Tangannya masih terlalu kecil untuk menggenggam mimpi. Tapi, sudah cukup kuat untuk mengikat tali dan mengakhiri hidupnya sendiri. Di pohon cengkeh itu, kemiskinan berdiri tegak, birokrasi bertepuk tangan, dan negara, seperti biasa, datang terlambat sambil membawa karangan bunga belasungkawa.

Baca Juga: Sampaikan Duka Cita Mendalam Atas Wafatnya Seorang Anak di Jerebu’u Kabupaten Ngada, Gubernur NTT Tegaskan Perbaikan Sistem Perlindungan Sosial

Namanya Yohanes Bastian Roja, disingkat YBR. Seorang anak yang kalah bukan oleh narkoba, bukan oleh kekerasan geng, bukan oleh perang, melainkan oleh harga buku dan pensil yang bahkan tidak sampai sepuluh ribu rupiah. Sepuluh ribu. Nilai yang di kota hanya cukup untuk parkir, untuk kopi pahit yang diminum sambil mengeluh tentang negara, atau untuk recehan kembalian yang sering kita biarkan jatuh di laci mobil. Tapi di Ngada, angka itu berubah menjadi palu godam yang menghantam dada seorang anak sampai hancur.

YBR menggantungkan dirinya pada Kamis, 29 Januari 2026. Ia tidak mati seketika karena kemiskinan, ia mati karena harapan yang terlalu sering dijanjikan tapi tak pernah datang. Ia menunggu Program Indonesia Pintar yang katanya untuk anak-anak sepertinya. Ia menunggu pencairan yang katanya tinggal urusan administrasi. Ia menunggu ibunya pulang dari bank dengan kabar baik. Yang datang justru sunyi, pohon cengkeh, dan kepala yang sakit, kata terakhir yang ia ucapkan kepada warga yang menanyainya kenapa tidak masuk sekolah hari itu.

Baca Juga: Berkaca Dari Tragedi Pelajar di Ngada, Kemensos Soroti Lemahnya Akurasi Data Bansos

Surat perpisahannya pendek, polos, dan kejam bagi siapa pun yang masih punya hati. “Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama.” Tidak ada kata marah, tidak ada makian kepada negara, tidak ada sumpah serapah pada pejabat. Hanya seorang anak yang meminta izin untuk mati karena merasa terlalu merepotkan dunia orang dewasa. Di usia sepuluh tahun, ia sudah belajar satu pelajaran paling pahit, hidup ini mahal, dan ia tidak sanggup membayarnya.

Negara pun tersentak. Polisi bicara motif, DPR bicara perlindungan, menteri bicara “cambuk” dan “alarm”. Tim konselor dikirim. Pernyataan pers dirilis. Semua bergerak cepat, setelah anak itu menjadi mayat. Tak ada yang bertanya kenapa sistem pendidikan yang katanya wajib dan gratis masih bisa membunuh seorang siswa SD. Tak ada yang merasa bersalah ketika administrasi kependudukan lebih sakral dari nyawa anak. KTP yang belum pindah domisili menjadi tembok beton yang lebih kokoh daripada empati.

Baca Juga: Tragedi di Ujung Bambu: Ketika Negara Memberi Receh, Sekolah Justru Mencekik Jutaan

Ibunya seorang single parent dengan lima anak. Ayahnya sudah lama meninggal. YBR tinggal bersama neneknya di kebun, berpindah-pindah antara rindu dan lapar. Beasiswanya ada, kata pejabat. Tapi tak bisa dicairkan. Karena satu baris data belum sinkron, karena satu cap belum lengkap, karena negara lebih percaya kertas dari air mata. Maka anak itu menunggu. Menunggu. Sampai menunggu menjadi terlalu lama, dan putus asa terasa lebih masuk akal dari harapan.

Ironisnya, setelah kematian itu, semua janji tiba-tiba terasa mudah. Akan ada PIP versi daerah. Akan ada seragam. Akan ada ketegasan door to door. Bahkan bupati akan datang ke makam. Negara selalu sangat dermawan kepada jenazah. Sayang, jenazah tidak lagi butuh buku, pensil, atau masa depan.

Di pohon cengkeh itu, yang tergantung bukan hanya tubuh seorang anak, tapi juga kegagalan kita bersama. Sebuah tragedi yang terlalu nyata untuk disebut takdir, terlalu kejam untuk disebut musibah. Jika sepuluh ribu rupiah bisa membunuh seorang siswa SD, maka barangkali yang benar-benar miskin bukan keluarganya, melainkan nurani kita.


(Oleh:Rosadi Jamani) 
Ketua Satupena Kalbar

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB