Di saat bersamaan, pemerintah tidak punya pilihan selain memeras kelas menengah yang tidak bisa menghindar dari pajak. Kenaikan PPN menjadi 12%, wacana pajak kendaraan yang mencekik, hingga berbagai potongan pendapatan adalah cara negara memaksa rakyat membiayai proyek populis ini.
Menuju Jurang Populis Amerika Latin?
Sejarah mencatat dengan tinta merah bagaimana program populis berskala masif menghancurkan perekonomian negara berkembang. Kita bisa berkaca pada keruntuhan ekonomi di Argentina atau Venezuela. Ketika sebuah program subsidi menjelma menjadi nyawa politik penguasa, program itu menjadi entitas yang too big to fail—terlalu besar untuk dihentikan.
Baca Juga: Tewasnya El Mencho Guncang Meksiko: Operasi Berdarah, Tekanan Trump, dan Ancaman Balas Dendam Kartel
Saat penerimaan pajak negara lesu, pengambil kebijakan tidak akan berani menyetop MBG karena menghindari kemarahan sosial massal. Solusinya? Mencetak utang baru dengan bunga tinggi yang menyedot likuiditas perbankan, membunuh sektor riil, dan mewariskan beban utang luar biasa bagi generasi masa depan.
KESIMPULAN:
Narasi "dari negara untuk bangsa" semakin sulit menutupi realitas di baliknya. Ini adalah investasi politik jangka panjang yang sangat mahal, di mana keuntungannya dinikmati segelintir elite, namun risikonya ditanggung oleh seluruh rakyat.
Pertanyaannya: Sampai kapan kita mau menutup mata dan rela dompet diperas demi menghidupi mesin kekuasaan ini?. (Lhyna Marlina)