opini

Pengantar Editor: Jejak yang Ditulis dengan Kesederhanaan

Jumat, 1 Mei 2026 | 18:53 WIB
Boni Hasudungan Siregar

Oleh: Nardi Jaya

“Bukan kekayaan yang akan kita tinggalkan, melainkan jejak-jejak kecil yang membuat hidup ini berarti.” — Kahlil Gibran

Setiap buku lahir dari sebuah perjalanan, dan perjalanan itu tidak selalu bermula dari ambisi untuk dikenang. Buku yang Anda pegang ini, Gigih (Catatan Pengabdianku), justru lahir dari kerendahan hati seorang pejabat publik yang semula merasa dirinya tidak pantas untuk dituliskan.

Saya masih ingat jelas pertemuan pertama dengan Ir. Boni Hasudungan Siregar. Dalam obrolan santai yang kemudian berkembang menjadi ide besar, saya memberanikan diri menawarkan gagasan menuliskan kisah pengabdiannya. Tetapi jawaban yang saya terima kala itu adalah penolakan halus, diiringi senyum khasnya yang penuh ketulusan. “Ah, saya rasa belum pantas kalau kisah saya dibukukan,” ucapnya.

Bagi saya, penolakan itu bukan tanda enggan. Justru di situlah saya melihat kerendahan hati seorang pemimpin yang lebih memilih berjalan dalam kesunyian pengabdian daripada menuntut panggung penghormatan.

Namun, jalan Tuhan seringkali penuh kejutan. Seminggu setelah percakapan itu, saya kembali menemui beliau dengan maksud berbeda; meminta tulisan sambutan untuk buku kedua saya, Polisi Humanis. Sambutan itu akhirnya beliau tulis dengan gaya yang khas: lugas, hangat, dan bernas. Dari sana, arah perbincangan kami berubah. Beliau tidak lagi sekadar menolak ide biografi, tetapi justru menyatakan kesediaannya untuk menulis sendiri perjalanan hidup dan pengabdiannya, dengan saya sebagai editornya.

Awalnya saya ragu. Mengedit karya seorang pejabat publik sekelas Sekretaris Daerah, bahkan Penjabat Bupati, jelas bukan perkara ringan. Tetapi perlahan saya melihat ini bukan beban, melainkan kehormatan. Lebih dari itu, ini kesempatan untuk belajar, bagaimana kesederhanaan bisa menyatu dengan ketegasan, dan bagaimana pengabdian bisa ditulis tanpa kehilangan kerendahan hati.

Saya mengenal Pa Boni tidak hanya dari diskusi-diskusi kami, tetapi juga dari jejak tulisannya di media sosial, khususnya Facebook. Di sana ia konsisten menulis tentang pengalaman, refleksi, hingga gagasan pembangunan. Karena itu, ketika menyunting naskah ini, saya merasa seperti sedang merangkai kembali mosaik-mosaik yang sudah beliau tuliskan.

Buku ini bukan sekadar catatan biografis. Ia adalah potret perjalanan seorang anak bangsa yang memilih jalan pengabdian, dari Palembang hingga Manggarai Timur, dari masa muda di Viqueque hingga amanah besar sebagai Penjabat Bupati. Dalam setiap babnya, Anda akan menemukan keyakinan sederhana: jabatan bukanlah kebanggaan pribadi, melainkan tanggung jawab untuk melayani. Dan inilah kisah lengkapnya. Perjalanan yang mungkin dimulai dengan langkah kecil, tetapi kini telah menorehkan jejak besar di tanah ini.

Boni Hasudungan Siregar lahir di Palembang, 1 Juni 1966. Ia lahir dan besar di luar Manggarai, namun takdir membawanya untuk mengabdikan sebagian besar hidupnya di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Kabupaten Manggarai Timur.

Sejak muda, Boni adalah pribadi yang menyukai tantangan, kerja keras, dan pengabdian. Setelah menyelesaikan pendidikan tingginya di Universitas Lampung, ia memulai kariernya sebagai aparatur sipil negara dengan penuh dedikasi. Latar belakang pendidikannya di bidang pertanian menjadi pintu masuk pengabdiannya di sektor pembangunan daerah.

Riwayat Pribadi dan Keluarga

Boni Hasudungan adalah sosok keluarga yang hangat. Ia menikah dengan Susanti Aruan, seorang perempuan kelahiran Tapanuli, pada 1 Agustus 1998. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai dua anak:
Josua Aldivio Siregar (lahir di Ruteng, 14 Februari 2000)
Gladys Mawarni Siregar (lahir di Ruteng, 1 Maret 2005)
Dalam lingkup keluarga besar, ia berasal dari orang tua yang sederhana:
Ayah: K. Siregar (meninggal tahun 2012)
Ibu: S.B Tambunan (meninggal tahun 2017)

Karier dan Pengabdian Panjang

Halaman:

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB