(Oleh: Ejhi Serlenso)
OPINI, Idenusantara.com-Isu guru non-ASN dilarang mengajar di sekolah negeri mulai 2027 kembali bikin dunia pendidikan gaduh. Bukan karena topiknya baru. Tapi karena yang mau “dilarang” ini adalah orang-orang yang selama bertahun-tahun menambal bolongnya sistem: masuk kelas saat guru ASN kurang, berdiri di papan tulis saat sekolah kekurangan tenaga, dan memastikan murid tetap belajar meski status mereka sendiri tak pernah pasti.
Di atas kertas, ini urusan penataan pegawai. Di lapangan, ini urusan nyawa sekolah.
Baca Juga: Kisah Pilu Yustina Guru Honorer di Sikka: 11 Tahun Mengabdi, Bertaruh Nyawa dengan Gaji Rp150 Ribu
SE No. 7/2026: Transisi atau Alarm Bahaya?
Keributan ini berangkat dari Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026. Aturannya jelas: penugasan guru non-ASN di sekolah negeri milik pemda hanya sampai 31 Desember 2026. Setelah itu, pemerintah siapkan skema baru.
Kemendikdasmen bilang ini bukan pemecatan. Hanya dasar hukum penugasan dan penggajian sampai akhir 2026. Niatnya merapikan. Tapi publik terlanjur baca sebagai alarm. Wajar. Kalau dibilang boleh mengajar sampai 2026 tapi nasib setelahnya belum jelas, maka yang tumbuh bukan ketenangan. Yang tumbuh justru cemas.
Guru honorer tidak makan kalimat penenang. Mereka makan dari kepastian kerja, penghasilan, dan status yang jelas. Kalau semua masih menunggu “skema baru”, berarti rasa was-was juga ikut mengantre.
Baca Juga: Gema TIDAK! di Monas: Saat Pidato Presiden Prabowo Terbentur Realita Buruh May Day 2026
237 Ribu vs 1,6 Juta: Datanya Saja Sudah Bikin Pusing
Merujuk SE itu, ada 237 ribu guru non-ASN aktif di sekolah negeri per 31 Desember 2024. Tapi sorotan DPR menyebut angka honorer secara luas bisa 1,6 juta orang. Selisihnya bukan sedikit. Ini sinyal bahwa urusan guru honorer bukan cuma soal aturan. Ini soal data yang belum terang.
Kalau data saja bisa dibaca berbeda, jangan heran kalau kebijakannya juga multitafsir. Bagaimana mau menata kalau yang mau ditata saja jumlahnya masih diperdebatkan?
Ironis: Dipakai Bertahun-tahun, Lalu Dianggap Masalah
Di banyak daerah, guru non-ASN bukan pelengkap. Mereka pengisi kekosongan yang nyata. Ketika formasi ASN kurang, mereka yang masuk kelas. Ketika murid tetap harus belajar, mereka yang berdiri di depan.