Idenusantara.com - Pada zaman dahulu kala di sebuah kampung yang bernama Kulan, tepatnya di desa Rana Kulan hiduplah dua orang pemuda yang memiliki perbedaan fisik yang seorang ata Gaha (Orang Buta) dan dia tidak bisa melihat, dan seorang lagi ata peko dia tidak bisa berjalan atau (orang lumpuh). Mereka tinggal dirumah yang berbeda tetapi jaraknya berdekatan. Ata Gaha (Orang Buta) mempunyai seekor anjing peliharaan.
Pada suatu hari semua warga kampung Kulan pergi la’o (bekerja di kebun). Saat itu, di kampung hanya ada ata Gaha (Orang Buta) dan ata peko (orang lumpuh) mereka berdua merasa lapar, mereka pun marah- marah karena belum juga datang anak-anak yang membawa bekal makanan dari ladang.
Kemudian ata Gaha (Orang Buta) bertanya kepada ata peko (orang lumpuh) oleh, nias anak koe ghoos ata ba ghan cala sina agu ites (dimana anak-anak yang bawah makanan, apakah ada di kamu punya rumah). Lalu ata peko menjawab, toe mangan, aik ata lemon lise pe ba han ite (tidak ada apakah mereka lupa bawa kita punya makanan).
Sebenarnya dua orang anak yang disuruh membawakan makanan untuk si gaha dan si peko sudah sampai di rumah mereka, hanya saja kedua anak itu berhenti di tengah jalan dan melahap semua makanan untuk si gahadan si peko.
Baca Juga: Sejarah Danau Rana Mese di Manggarai Timur NTT
Karena belum juga mendapatkan jatah makanan si gaha dan si peko semakin lapar. Si gaha pun berniat memasak tetapi di rumahnya tidak ada api. Suasana di luar rumah lagi hujan, kemudian ia menyuruh seekor anjing untuk pergi mengambil api di rumah si peko, tetapi sebelumnya si gaha bertanya pada si peko apakah ada api di rumahnya, berkatalah ata gaha ouhhh…aku darom (saya lapar). Lalu ata peko menjawab e….eng, aku kole darom ( iya, saya juga lapar). Ata gaha bertanya lagi manga api lau mbaru demiu? (apakah ada api di kamu punya rumah?). Jawab ata peko e..en pe desoon ga usan mese hoo pean (iya, untuk apa, hujan besar diluar). kemudian ata gaha menyarankan kong agu asu lite ( kamu panggil dengan anjing) si peko pun memanggil anjing tersebut. Kukuukuuku (panggilan untuk anjing) berlarilah anjing itu pergi ke rumah si peko, si peko pun berniat membuat api atau potongan kayu bakar yang salah satu ujungnya berapi dan diikatkan pada ekor anjing tersebut, berlarilah anjing itu membawa api ke rumah si Gaha (orang lumpuh).
Anjing tersebut merisih kepanasan, melihat hal itu ata peko (orang Lumpuh) malah tertawa terbahak bahak ( hahhhahahhaha) sementara di luar rumah, anjing tersebut bertemu dengan ata wekos atau ata ngara tanah (orang asli tuan tanah yang sudah membungkuk) melihat anjing tersebut, merintih kepanasan ata wekos pun marah dan pergi menuju rumah si peko.
Baca Juga: Misteri Danau Kelimutu: Warna Air yang Sering Berubah
Sambil memegang tongkat di tangannya ata wekos bertanya kepada ata peko ewwmwewewm, ewwmwewewm ( suara ata wekos meraung seperti suara harimau) miu gho etas ko lebo, mau si lembek atau masih keras. Lalu ata peko menjawab, aee aku ngoeng lebo (saya mau bencana besar) dan setelah mendengar jawaban ata peko, ata wekos tadi menghilang.
Bersamaan dengan itu, muncul air bah menggenangi kampung Kulan. Ata Gaha dan Ata Peko ikut terhanyut dalam air itu, mereka berteriak minta tolong, campeee, campeee, campeee ami ta (tolonggg, tolonggg, tolonglah kami), tapi sayangnya nyawa mereka tidak tertolong. Saat terjadinya peristiwa, orang-orang yang baru saja pulang dari kebun segera berlari menyelamatkan diri, tetapi sebagian terhanyut terbawa air. Ada yang menoleh kembali ke kampung Kulan dan yang menoleh itu berubah menjadi watu (batu).
Sampai sekarang, di tengah danau itu masih tampak likang api (tungkuh api) tungkuh tersebut milik ata gaha dan ata peko. Tungkuh itu diberi nama n’torong. Di dalam n’torong masih ada rawuk atau abu dan rawuk itu tidak terendam air.
Destinasi wisata Desa Rana Kulan keindahan alam masih sangat asri dan memiliki daya Tarik tersendiri sehingga pengunjung selalu merasa ingin kembali berkunjung ke Danau Rana Kulan tersebut.
Artikel Terkait
Kembangkan Pariwisata Sekitar Danau Kelimutu, Pemkab Ende Teken Kerjasama dengan Bali
Tingkatkan Nasiolanis Para Kader Pada HUT RI-77; DPD PDIP NTT Kibar Merah Putih di Puncak Danau Kelimutu
Bagaimana Kondisi Warna Danau Kelimutu Saat Ini, Ini Faktanya
Misteri Danau Kelimutu: Warna Air yang Sering Berubah
Sejarah Danau Rana Mese di Manggarai Timur NTT
Danau Toba, Fakta Unik dan Keindahan Alamnya yang Bikin Penasaran