pendidikan

Ramadan Bukan Alasan Kendur, Pemerintah Arahkan Sekolah Kurangi Aktivitas Fisik dan Perkuat Pendidikan Karakter

Senin, 23 Februari 2026 | 10:00 WIB
Ramadan Bukan Alasan Kendur, Pemerintah Arahkan Sekolah Kurangi Aktivitas Fisik dan Perkuat Pendidikan Karakter

IDENUSANTARA.COM - Pemerintah resmi meminta sekolah-sekolah di seluruh Indonesia untuk menyesuaikan kegiatan belajar mengajar selama bulan suci Ramadan. Aktivitas fisik siswa dikurangi, sementara penguatan karakter, spiritualitas, dan nilai-nilai moral justru diperkuat. Kebijakan ini ditegaskan melalui Surat Edaran Bersama (SEB) tiga kementerian guna memastikan proses pendidikan tetap berjalan optimal tanpa mengabaikan kondisi siswa yang menjalankan ibadah puasa.

Surat edaran tersebut diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri. Pemerintah menilai Ramadan harus menjadi momentum pembentukan karakter peserta didik, bukan sekadar penyesuaian jadwal belajar.

Baca Juga: Ditegur Saat Jualan di Teras Sendiri, Ibu Pedagang Sayur di NTT Ini Menangis: Di Mana Batas Aturan dan Rasa Keadilan?

Dalam kebijakan tersebut, satuan pendidikan diminta mengurangi intensitas kegiatan fisik, khususnya pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK). Langkah ini bertujuan mencegah kelelahan berlebihan pada siswa yang berpuasa, sekaligus menjaga kesehatan dan konsentrasi mereka selama mengikuti pembelajaran di kelas.

Tak hanya itu, sekolah juga diberikan fleksibilitas untuk menyesuaikan durasi dan jam belajar agar lebih kondusif. Penyesuaian ini diharapkan tetap menjaga kualitas pembelajaran tanpa membebani siswa secara fisik maupun mental.

Pemerintah menekankan bahwa Ramadan merupakan waktu yang tepat untuk memperkuat pendidikan karakter. Kegiatan seperti tadarus Al-Qur’an, kajian keagamaan, pembiasaan sikap disiplin, empati sosial, hingga kegiatan berbagi kepada sesama didorong untuk menjadi bagian dari program sekolah selama bulan puasa. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak dan kepribadian.

Baca Juga: Tirai Besi Lautan: Iran-Rusia-China Gelar Latihan Militer di Tengah Bayangan Perang

Selain itu, asesmen formatif tetap dijalankan guna memastikan perkembangan belajar siswa tetap terpantau. Perhatian khusus juga diarahkan kepada siswa berkebutuhan khusus atau mereka yang berisiko mengalami ketertinggalan pembelajaran.

Kebijakan ini disambut sebagai langkah strategis agar pendidikan tetap relevan dengan konteks sosial dan spiritual masyarakat. Ramadan dipandang bukan sebagai hambatan proses belajar, melainkan kesempatan membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Dengan pendekatan ini, pemerintah berharap suasana sekolah selama Ramadan tetap produktif, sehat, dan bermakna, sekaligus menjadikan bulan suci sebagai ruang pembentukan karakter yang lebih kuat bagi para peserta didik di seluruh Indonesia.

Terkini