Ia juga berterima kasih kepada keluarga, pihak pemerintah dan pemangku kebijakan publik, kolega dan pimpinan perguruan tinggi, pimpinan gereja lokal dan tokoh agama, yang dengan caranya masing-masing turut membentuk dimensi moral dan pastoralnya.
“Saya juga ingin mengucapkan terima kasih berlimpah kepada kedua orang tua dan adik-adik saya, seluruh anggota keluarga besar, sahabat, dan kenalan di mana saja berada, yang dengan kesabaran dan kasih setia menjadi ruang pertama tempat saya belajar tentang kepercayaan dan tanggung jawab,” ujarnya penuh haru.
Baca Juga: Berantas Judi Online dari Dalam, Propam Polres Manggarai Barat Geledah Ponsel Personel
Terima kasih secara khusus juga disampaikannya kepada Yayasan Persekolahan St. Paulus Ende yang menaungi dan memastikan agar arah kerja dan peta jalan IFTK Ledalero tetap selaras dengan karya misi gereja universal dan SVD.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa karya misi IFTK Ledalero ialah partisipasi dalam Missio Dei, yakni Karya Allah yang selalu berlangsung dalam sejarah konkrit dan kebudayaan manusia. Baginya, pendidikan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai produk ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai praksis iman yang berdialog dengan konteks sosial, budaya, dan politik. Dukungan Yayasan St. Paulus Ende dimaknainya sebagai dorongan yang memungkinkan IFTK Ledalero untuk terus menjalankan pendidikan sebagai ruang inkarnasi nilai-nilai injil dalam realitas Indonesia, di mana refleksi intelektual, tanggung jawab sosial dan pelayanan publik bertemu dalam satu horizon misioner yang sama.
“Secara khusus, saya menyebut Bapa Uskup Agung Ende dan Uskup Larantuka yang melalui pendampingan pastoral, kebijaksanaan, dan kesaksian hidupnya telah memperkaya dimensi moral dan spiritual dari perjalanan akademik dan refleksi intelektual saya,” tuturnya, lagi-lagi disambut dengan disambut tepuk tangan hadirin.
Tak lupa, jebolan Hochschule fur Philosophie, Munchen – Jerman itu mengapresiasi seluruh civitas akademika IFTK Ledalero yang telah ambil bagian dalam percakapan dan perjumpaan akademik sehari-hari dan menciptakan ruang belajar bersama sekaligus memperkaya refleksi filosofis yang ia berikan.
P. Prof. Dr. Otto juga mengemukakan bahwa dalam ziarah intelektualnya di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia, ia mengalami Ledalero sebagai ruang yang paling kondusif bagi pertumbuhan kreativitas dan pengembangan ilmu pengetahuannya. Menurutnya, keheningan Ledalero memberikan kedalaman refleksi, yang pada saat bersamaan, keterbukaannya taerhadap persoalan kemanusaiaan dan sosial politik, menjaga pemikiran tetapi berakar dalam realitas sosial. Untuk itu, ia mengajak keluarga besar IFTK Ledalero untuk terus melanjutkan eksistensi Ledalero sebagai bukan sekadar institusi pendidikan, tetapi komunitas pencarian kebenaran yang hidup.
Untuk diketahui, Prof. Otto Gusti Ndegong Madung merupakan imam Serikat Sabda Allah (SVD) sekaligus akademisi di bidang filsafat politik. Pria kelahiran Elar, Manggarai Timur, pada 20 Mei 1970 ini dikenal sebagai pemikir yang konsisten mengkaji relasi antara agama, negara, dan masyarakat dalam konteks Indonesia yang plural. Saat ini, ia menjabat sebagai Rektor Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero. Sebelum mengabdi di Ledalero, ia menyelesaikan studi doktoral di Institute of Philosophy, München, Jerman, serta terlibat dalam berbagai program riset internasional di antaranya di University of Vienna, University of Melbourne, dan Australian Catholic University.
Selain aktif di dunia akademik, Otto Gusti juga terlibat dalam pelayanan sosial melalui Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRUK F) serta menjadi anggota Asosiasi Filsafat dan Teologi Indonesia. Sebagai seorang akademisi, Otto Gusti telah menghasilkan berbagai karya ilmiah dalam bentuk buku, artikel jurnal, dan tulisan di media nasional. Karya-karyanya berfokus pada isu-isu filsafat politik, demokrasi, HAM, serta dialog antara agama dan ruang publik.
Adapun pengukuhan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat publik, di antaranya Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena; Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago; dan Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen. Hadir pula, Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD dan Uskup Larantuka, Mgr. Yohanes Hans Monteiro dan juga sejumlah anggota DPRD dari sejumlah wilayah Kabupaten di NTT.