Cerpen : Tangisan  Dalam Diam

photo author
Juang Sinyo, Ide Nusantara
- Senin, 27 Februari 2023 | 14:50 WIB
Sumber Foto : Facebook ( istimewa )
Sumber Foto : Facebook ( istimewa )

Cerpen : Tangisan  Dalam Diam

Oleh : Maria Dei Flora ( Mahasiswi Prodi PBSI UNIKA St. Paulus Ruteng, Kelas 2021B )

Idenusantara.com-
         Aku mengikuti alur perjalanan hidupku yang dipenuhi dengan bumbu-bumbu luka. Aku terjatuh dalam keadaan yang begitu menyakitkan hingga untuk menikmati hidup terasa sangat sulit.

        Aku lemah dan aku merupakan sosok wanita yang membutuhkan kasih sayang yang sesungguhnya. Aku merasa asing akan dunia yang begitu dekat dan terasa hampa bila bersama. Aku melihat kembali ke duniaku yang begitu jauh, dunia yang seakan mengkhianatiku untuk kesekian kalinya.

Baca Juga: PUISI : Suara

         Air mata yang aku tumpahkan tidak berarti di mata mereka seolah-olah itu hanya bualan semata dalam arti mencari perhatian. Hatiku sakit seakan ditusuk banyak ribuan panah beracun yang menancap begitu dalam dan terasa sangat menyakitkan untuk diterima oleh kenyataan yang sesungguhnya.


         Aku mengingat kembali semua kepingan-kepingan masa itu, kepingan kaca yang masih membekas dalam ingatan dan sulit untuk dilupakan. Aku mengingat kembali di tempat itu aku disiksa oleh perkataan yang membuat kinerja mentalku menjadi rusak.

Baca Juga: PUISI : Sepucuk Surat Ibu Dari Kampung

           Kata-kata yang dilontarkan begitu kejam seakan itu adalah peluru yang menancap ke jantung, dan aku sulit bernafas. Tidak terasa air mataku dengan sangat mudah jatuh dan membasahi wajahku yang kusut. Aku menangis kesekian kalinya dan aku rapuh, pertahananku hancur kala mengingat masa itu.


           Aku duduk disudut tembok yang gelap dan mulai menagis dibawah suara hujan yang begitu deras dan aku memukul tembok menyalurkan rasa sakit hatiku. Aku membuka kembali topeng yang selama ini aku pakai dan itu merupakan topeng penyamaranku dalam menjelajahi dunia yang penuh penghianatan.

Baca Juga: Wagub JNS Ajak IMI NTT Jalin Kolaborasi Untuk Pertumbuhan Ekonomi Daerah

            Malangnya aku selalu bersimpuh dan meminta restu tetapi alam seakan tuli dan hanya memandangku sebelah mata. Sejak saat itu, aku menatap mereka dengan tatapan datar tanpa adanya cinta.

Baca Juga: PUISI : Bercerita

Maria Dei Flora

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Juang Sinyo

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

PUISI: RASA TANPA KATA

Minggu, 10 September 2023 | 05:51 WIB

PUISI : Untukmu Ibundaku

Sabtu, 1 April 2023 | 18:16 WIB

PUISI : Tentang Diri

Sabtu, 1 April 2023 | 17:58 WIB

PUISI : Namamu Dalam Sujudku Yang Paling Serius

Minggu, 26 Maret 2023 | 12:09 WIB

PUISI : Deretan Kursi Jadi Saksi

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:44 WIB

PUISI : Rembulan

Minggu, 26 Maret 2023 | 11:15 WIB

PUISI : Kamu Mencintaiku Adalah Cerita Lucu

Minggu, 26 Maret 2023 | 10:59 WIB

PUISI : Hiasan Cahaya Malam

Sabtu, 25 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Ayah Aku Lelah

Jumat, 24 Maret 2023 | 20:28 WIB

PUISI : Teringat Kembali

Rabu, 22 Maret 2023 | 21:16 WIB

PUISI : Engkau Pulangkan Rindumu

Rabu, 15 Maret 2023 | 21:02 WIB

PUISI: Replika Kenangan ( Oleh: Ryzton Tolan )

Senin, 13 Maret 2023 | 22:39 WIB

PUISI : IBU (Oleh: Norlince Florida)

Minggu, 12 Maret 2023 | 22:42 WIB

PUISI : Kenangan

Kamis, 9 Maret 2023 | 11:25 WIB

PUISI : Di Keheningan Malam

Kamis, 9 Maret 2023 | 10:55 WIB

PUISI : Rindu Yang Bertamu

Rabu, 8 Maret 2023 | 20:16 WIB

PUISI : Rindu

Rabu, 8 Maret 2023 | 17:37 WIB
X