Wisata Alam atau Tambang? Negara Harus Pilih!
Agus Karsha menyindir pemerintah yang terkesan ambigu, dimana satu sisi mengklaim mendorong pariwisata berkelanjutan, tetapi sisi lain justru membuka izin tambang di kawasan yang sama.
“Mereka menjual Raja Ampat di brosur pariwisata, tapi di belakang layar mereka menjual tanah dan lautnya ke korporasi tambang. Ini kemunafikan tingkat tinggi!,” seru Agus.
Dia menegaskan bahwa pembangunan yang berpihak pada rakyat seharusnya tidak mengorbankan warisan alam dan budaya demi keuntungan jangka pendek.
Baca Juga: Momen Haru Ketika SDI Compang Ngeles Melepas Siswa-siswi Kelas 6 dan Guru Purna Tugas
Menurutnya, model pembangunan berkelanjutan harus berakar pada konservasi, pariwisata hijau, dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Raja Ampat Adalah Harga Diri Bangsa
Lebih dari sekadar wilayah geografis, Raja Ampat adalah simbol bahwa Indonesia masih memiliki sesuatu yang suci. Bila kekuatan uang dan politik dibiarkan merobek-robek kawasan ini, maka Indonesia akan kehilangan salah satu mahkota terakhirnya.
“Papua bukan tanah kosong! Raja Ampat bukan untuk ditambang. Raja Ampat untuk dijaga!,” tutup Agus dengan lantang.
Seruan dari Bali ini bukan hanya gema dari seorang pemuda. Ini adalah alarm keras bagi seluruh rakyat Indonesia, apakah kita masih peduli pada alam? Atau kita rela menjual satu-satunya surga terakhir demi segenggam logam.***
Artikel Terkait
ARKOPLING: Kopi, Semangat, dan Cerita Cinta dari Tanah Rincah Manggarai
Kisah Inspiratif Pasangan Suami Istri di Manggarai Barat Lulus P3K Bersamaan Setelah 20 Tahun Mengabdi
Momen Haru Ketika SDI Compang Ngeles Melepas Siswa-siswi Kelas 6 dan Guru Purna Tugas
Curhat Kamtibmas, Cara Polisi Mendengar Keluhan Masyarakat
Jejak Cinta Seorang Alumni: Ejhi Serlenso dan Buku-Buku untuk SDI Compang Ngeles
Hebat! Juara 2 Putri Manggarai 2025 "Vanesa Magung", Siap Harumkan NTT di Ajang Nasional Putri Bumi 2025
Waspada! Pedagang Rokok Ilegal Terancam Pidana