Polisi yang Hadir di Pelosok, Bukan di Meja Saja
Salah satu kebiasaan yang tidak berubah sejak ia menjabat: turun langsung ke lapangan. Ia bukan tipe pemimpin yang duduk nyaman di kantor berpendingin udara. Saat ada laporan warga disabilitas kesulitan mobilitas, ia turun langsung, menyerahkan kursi roda tanpa menunggu seremoni.
“Kami banyak tahu dari berita lokal. Kami baca, lalu langsung cari alamatnya dan turun. Saya ingin Polres ini benar-benar hadir di hati masyarakat,” katanya.
Dari Borong hingga Elar, dari kampung di pesisir hingga dusun-dusun yang hanya bisa dijangkau lewat jalan tanah, Kapolres dan timnya menjelajah bukan untuk penindakan, tapi untuk pelayanan sosial.
Baca Juga: Sentuhan Persaudaraan Polres Manggarai untuk Para Purnawirawan Jelang HUT Bhayangkara ke-79
Tanpa Pungli, Tanpa Amplop
Ia juga membenahi sistem pelayanan di dalam Polres. Tidak ada lagi pungutan liar. Tidak ada 'amplop-amplop' yang mengiringi proses administratif seperti SKCK atau surat kehilangan.
“Kalau SKCK Rp30 ribu, ya segitu. Tidak lebih. Kalau tidak ada biaya resmi, ya kami layani tanpa pungutan. Itu perintah saya ke semua anggota,” tegasnya.
Ia mengaku tak ingin membawa citra polisi yang kaku dan seram. Ia lebih memilih wajah polisi yang ramah, hadir sebagai sahabat masyarakat.
Baca Juga: Wujud Peduli Kasih Tak Berhenti, Bripka Hery Tena Kunjungi Rofinus Das Penderita Stroke di Cibal
Diterima sebagai Saudara
Tugas sebagai Kapolres di daerah seringkali menantang karena jarak emosional antara aparat dan warga. Tapi bagi AKBP Suryanto, warga Manggarai Timur justru menyambutnya seperti keluarga.
“Saya tidak merasa ini daerah tugas. Saya merasa ini rumah. Warga ramah, rendah hati, dan sangat toleran. Saya merasa disayang di sini,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengaku tak mudah nanti untuk meninggalkan tempat ini. Setiap momen dari pagi patroli hingga malam bertemu warga telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.