Gubernur Melki Laka Lena: Kompas Moral dan Penjaga Amanah, Menyelami Keresahan Rakyat dengan Dialog

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Jumat, 18 Juli 2025 | 14:44 WIB
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena didampingi Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit saat meninjau lokasi PLTP Ulumbu
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena didampingi Bupati Manggarai, Herybertus G. L. Nabit saat meninjau lokasi PLTP Ulumbu

Ruteng, Idenusantara.com – Perbukitan hijau Desa Lungar, Kecamatan Satar Mese, Kabupaten Manggarai, menyimpan dua kisah berbeda.

Potensi energi panas bumi yang menjanjikan masa depan, sekaligus kegelisahan mendalam warganya.

Di tengah persimpangan ini, nama Emanuel Melkiades Laka Lena tampil bukan hanya sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), melainkan sebagai "Kompas Moral" dan "Penjaga Amanah" yang memilih jalan mulia, dialog langsung dengan hati rakyatnya.

Menyambut Gejolak, Menghargai Demokrasi

Rabu, 16 Juli 2025, menjadi saksi bisu. Kunjungan kerja Gubernur Melki Laka Lena ke Lungar, Poco Leok, disambut pemandangan tak terduga.

Ratusan warga telah menanti di gerbang kampung, bukan untuk menyambut hormat, melainkan untuk menyuarakan penolakan keras terhadap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Poco Leok.

Spanduk-spanduk terentang, mengukir ketidakpuasan mendalam atas ancaman lingkungan dan tatanan adat yang mereka rasakan.

Namun, reaksi Gubernur Melki sungguh mengejutkan. Ia tak gentar. Justru sebaliknya, ia melihat demonstrasi itu sebagai bentuk penghormatan dan wujud demokrasi sejati.

Sebuah isyarat bahwa kehadirannya di tengah "badai penolakan" ini adalah momentum emas untuk memahami.

Ia datang bukan dengan arogansi kekuasaan, bukan untuk memaksakan kehendak. Tegasnya, ia hadir untuk mendengar langsung suara rakyat.

Sikap ini bukanlah kebetulan. Bagi banyak pihak, keberanian Gubernur Melki menghadapi langsung aksi protes adalah cerminan mendalam dari jejaknya sebagai Mantan Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI).

Di lembaga itu, ia ditempa untuk berhadapan dengan realitas sosial, mengasah keberanian berbicara atas nama yang terpinggirkan, dan memahami bahwa suara rakyat adalah esensi demokrasi.

Prinsip-prinsip ini, yang menjadi urat nadi aktivisme PMKRI, kini ia bawa ke dalam ruang-ruang kekuasaan.

Seni Mendengar: Preferential Option For The Poor 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Tags

Rekomendasi

Terkini

X