Menelusuri Jejak Cinta dalam Belis, Pesona Lamaran Adat Manggarai di Bumi Flores

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Rabu, 23 Juli 2025 | 14:46 WIB
Pasangan Manggarai saat menjalankan adat Paluk Killa, adat tukar cincin yang diberkati oleh pimpinan Gereja (Foto: KK Bucek)
Pasangan Manggarai saat menjalankan adat Paluk Killa, adat tukar cincin yang diberkati oleh pimpinan Gereja (Foto: KK Bucek)

Percakapan ini dihiasi dengan go'et, ungkapan-ungkapan adat yang puitis dan penuh filosofi. Go'et bukan hanya sekadar kata-kata, melainkan jembatan komunikasi yang mendalam, menyampaikan niat baik dan harapan akan masa depan.

Sebelum ikatan pernikahan bisa terwujud, ada satu tahapan penting yang tak boleh dilewatkan: Turuk Empo.

Ini adalah sesi penelusuran silsilah kedua belah pihak keluarga untuk memastikan tidak ada hubungan darah yang terlalu dekat yang dilarang oleh adat untuk menikah.

Hal ini menunjukkan betapa Manggarai sangat menjunjung tinggi harmoni dan tatanan sosial dalam setiap sendi kehidupan, termasuk dalam ikatan perkawinan.

Setiap ritual dalam lamaran adat Manggarai adalah cerminan dari nilai-nilai luhur. Konsep Anak Rona (pihak pemberi gadis/laki-laki) dan Anak Wina (pihak penerima gadis/perempuan) menegaskan bahwa pernikahan adalah penyatuan dua entitas keluarga besar, yang selanjutnya akan saling bahu-membahu dan melengkapi.

Ungkapan adat seperti "Ita Kala Le Paang, Tuluk Pu'un Batu Mbaun" (melihat daun sirih di gerbang kampung, kami datang mencari pohon tempat ia bertumbuh) adalah gambaran puitis tentang niat tulus untuk mencari pasangan hidup dan membangun rumah tangga.

Prosesi lamaran adat Manggarai adalah warisan budaya yang tak ternilai, sebuah perayaan cinta yang agung, komitmen yang mendalam, dan penghormatan terhadap leluhur.

Di tengah modernisasi, tradisi ini tetap hidup, menjadi pengingat akan keindahan dan kekayaan identitas Manggarai di Bumi Flores.

Prosesi lamaran adat Manggarai adalah perwujudan nilai-nilai kekeluargaan, gotong royong, dan penghormatan.

Ia mengajarkan bahwa pernikahan bukan sekadar urusan pribadi dua insan, melainkan peristiwa sakral yang mengikat seluruh kerabat dan leluhur.

Setiap tahapan, mulai dari perkenalan sederhana hingga negosiasi belis dan ritual Pongo, menanamkan pesan penting tentang keseriusan, tanggung jawab, dan saling menghargai.

Harmonisasi antara adat dan spiritualitas, seperti yang terlihat pada peran Pastor dalam pemberkatan cincin, menegaskan bahwa nilai-nilai budaya dapat bersinergi indah dengan keyakinan spiritual, menciptakan fondasi kokoh bagi sebuah rumah tangga.

Tradisi ini adalah pengingat bahwa akar budaya adalah kekuatan yang membentuk identitas, membimbing setiap langkah hidup, dan menjamin keberlangsungan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi di Bumi Manggarai.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Gordianus Jamat

Tags

Rekomendasi

Terkini

X