Meski demikian, Gubernur Melki mengingatkan masih ada pekerjaan rumah yang perlu dituntaskan: literasi digital masyarakat yang masih rendah, kesenjangan infrastruktur TIK, kesiapan infrastruktur perbankan, dan adaptasi SDM pemerintah yang perlu terus ditingkatkan.
Baca Juga: Pidato Satu Jam, Mentan Amran Berhasil Kumpulkan Rp 75,85 Miliar Untuk Bencana Sumatera
Pemaparan BI : Inflasi Akhir Tahun Terkendali, Tapi Perlu Kewaspadaan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Adidoyo Prakoso memaparkan diagnosis inflasi akhir tahun. Menurut BI, inflasi Desember diproyeksikan tetap terkendali, meski berpotensi naik akibat meningkatnya permintaan jelang Natal–Tahun Baru dan dampak cuaca terhadap produksi ikan dan hortikultura. Selain itu, kenaikan harga emas global turut memberikan tekanan terhadap inflasi tahunan. Namun terdapat pula sejumlah faktor penahan:
• turunnya tarif angkutan udara seiring bertambahnya rute dan maskapai,
• stabilisasi harga energi tertentu oleh pemerintah,
• operasi pasar dan penyaluran beras SPHP.
BI memberikan sejumlah rekomendasi kepada TPID, antara lain : memperkuat cadangan pangan melalui Pekarangan Pangan Lestari, dan sidak pasar dan distributor; menjaga kestabilan harga dengan memaksimalkan peran NTT Mart sebagai offtaker hasil panen petani; mendorong kelancaran distribusi dengan revitalisasi pelabuhan; dan mendorong komunikasi yang efektif dengan digitalisasi informasi harga pangan.
Baca Juga: Kunjungi Lokasi Bencana, Mentan Pastikan Stok Beras Aman dan Sawah Rusak Diperbaiki
Pemaparan BPS : Makanan dan Transportasi Dorong Inflasi Bulanan, IPH Terkendali
Kepala BPS NTT, Matamira Bangngu Kale, menambahkan bahwa inflasi bulanan November 2025 sebesar 0,58%, terutama didorong kelompok makanan dan transportasi. Sejumlah komoditas seperti sawi hijau, bawang merah, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama.
Ia juga memaparkan perkembangan Indeks Perkembangan Harga (IPH), yang pada M4 November berada di angka -0,16%—menandakan harga secara umum relatif terkendali.
Selain memaparkan perkembangan inflasi, BPS juga menyajikan hasil dua studi mengenai dampak ekonomi dari dua event besar yang berlangsung sepanjang tahun 2025.
Pertama, Pameran Pembangunan HUT RI 2025. BPS mencatat bahwa tingkat kepuasan pengunjung mencapai 74 persen, indikasi bahwa acara ini bukan hanya menarik, tetapi juga memberikan pengalaman yang dianggap bermanfaat oleh sebagian besar masyarakat. Dari sisi ekonomi, pameran tersebut menghasilkan efek multiplayer yang signifikan, mencapai Rp 19,7 miliar, dengan nilai tambah bruto sebesar Rp 10,14 miliar. Kegiatan ini juga berkontribusi langsung pada pendapatan masyarakat melalui kompensasi tenaga kerja senilai Rp 3,7 miliar. Namun, BPS mengingatkan bahwa dampak seperti ini bersifat jangka pendek. Karena itu, diperlukan program yang berjalan sepanjang tahun untuk memberikan manfaat ekonomi yang lebih konsisten, seperti NTT Mart, yang terus mendukung petani dan UMKM dalam memasarkan produk mereka.
Kedua, Tour de NTT 2025. Ajang olahraga sekaligus promosi daerah ini menunjukkan kinerja pembiayaan yang sehat, dengan 70 persen pendanaan berasal dari sponsor, sehingga beban APBD dapat ditekan. Dampak ekonominya tercatat mencapai Rp 10,21 miliar, sementara nilai tambah bruto yang dihasilkan sebesar Rp 5,3 miliar. Dari sisi persepsi publik, gelaran ini mendapat sambutan hangat: 76 persen masyarakat menyatakan sentimen positif. Temuan ini menunjukkan bahwa Tour de NTT tidak hanya menggerakkan ekonomi, tetapi juga memperkuat citra daerah di mata publik.
Stok Pangan Terjaga, Bulog Distribusikan Bantuan ke Masyarakat
Sementara itu, Manager Pengadaan Perum Bulog Kantor Wilayah NTT, Kabul Marliansyah memaparkan kondisi stok pangan strategis menjelang akhir tahun. Saat ini, stok beras se-NTT mencapai 18 ribu ton, ditambah 355 ton beras premium, 566 ton gula, dan 789 ribu liter minyak goreng. Untuk memperkuat ketahanan pasokan, Bulog juga memastikan tambahan 15 ribu ton beras dari NTB dan Jawa Timur yang sedang dalam proses distribusi.