idenusantara.com -- Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, hingga kini belum dapat beroperasi meski pembangunannya telah rampung dan menelan anggaran sekitar Rp 1,5 miliar.
Dapur tersebut berlokasi di Kampung Air Samak, Kelurahan Menjelang, Kecamatan Mentok. Bangunan utama berdiri dengan ukuran 19 x 20 meter, dilengkapi teras berukuran 4,5 x 20 meter.
Pengurus Yayasan Mitra Sehat Nol Delapan, Dadang Destari Putra, mengatakan seluruh proses pembangunan dan persiapan dapur telah selesai sesuai perencanaan.
"Kurang lebih anggaran yang digunakan mencapai Rp 1,5 miliar. Ukuran bangunan utama 19 x 20 meter, di luar teras," kata Dadang saat ditemui wowbabel di lokasi dapur MBG pada Senin, 5 Januari 2026.
Menurutnya, pada dasarnya dapur tersebut sudah siap beroperasi sepenuhnya dan sesuai petunjuk teknis (Juknis). Namun, kendala muncul saat proses survei dan validasi lapangan.
Baca Juga: Kadin Indonesia Akan Bangun 100 Dapur MBG Bulan Agustus 2025
"Kami divalidasi bahwa dapur kami dianggap tidak permanen karena menggunakan Glass Reinforced Concrete (GRC)," ujarnya.
Dadang menyayangkan Dapur SPPG miliknya belum dapat beroperasi, lantaran sudah menelan anggaran berkisar Rp1,5 Miliar untuk investasi menjalankan program MBG tersebut.
Dadang mempertanyakan penilaian tersebut. Menurutnya, status permanen atau tidaknya bangunan merupakan kewenangan Kementerian Pekerjaan Umum melalui sistem SIMBG, sementara soal kontaminasi silang menjadi ranah Dinas Kesehatan.
"SPPI tidak memiliki kualifikasi atau klasifikasi untuk menentukan permanen atau tidak permanen, termasuk soal kontaminasi silang," cetusnya saat ditemui di Dapur MBG.
Lebih lanjut, kata dia dirinya sengaja memilih dinding berbahan GRC karena sudah memperhitungkan iklim di Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat.
Baca Juga: Presiden Brasil Sebut Program MBG Indonesia Selaras dengan Aliansi Global Melawan Kelaparan
"Dari awal perencanaan, kebetulan saya perencana kontruksi, kami terbiasa melalukan observasi awal. Mulai dari juknis yang disiapkan BGN, kondisi alam sekitar, dan cuaca sekitar," katanya.
Dadang mengungkapkan penggunaan material GRC justru dipilih karena dinilai paling ideal untuk dapur modern.
Artikel Terkait
Sebut MBG Program Mulia, Bahlil: Saya Pernah Busung Lapar Saat Kuliah
Presiden Brasil Sebut Program MBG Indonesia Selaras dengan Aliansi Global Melawan Kelaparan
Dari OVOP sampai MBG : Arahan Wakil Gubernur Johni Asadoma di Kantor Bupati Manggarai