Gema Tihar Pecah di Fulan Fehan: 3.000 Penari Likurai Satukan Indonesia, Timor Leste, dan Australia

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Senin, 29 Juni 2026 | 12:03 WIB
Gema Tihar Pecah di Fulan Fehan: 3.000 Penari Likurai Satukan Indonesia, Timor Leste, dan Australia (Foto: Prokopim Belu)
Gema Tihar Pecah di Fulan Fehan: 3.000 Penari Likurai Satukan Indonesia, Timor Leste, dan Australia (Foto: Prokopim Belu)

Idenusantara.com-Gema Tihar menggema di Padang Savana Fulan Fehan, Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, pada Sabtu 27 Juni 2026. Sebanyak lebih dari 3.000 penari Likurai dari berbagai suku, Timor Leste, hingga mahasiswa UNHAN RI bergerak serempak dalam satu irama.

Momen itu menandai pembukaan resmi Festival Fulan Fehan ke-4 yang dipukul langsung oleh Menteri Dalam Negeri RI, Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D.

Baca Juga: Festival Kelas Dunia: 4 Suku Besar Bersatu, Fulan Fehan Ke-4 Sukses Gelar Likurai Kolosal di Tapal Batas

Disambut Adat Tertinggi, Hase Hawaka

Pembukaan diawali penyambutan adat yang khidmat. Rombongan Mendagri disapa dengan _Hase Hawaka_ oleh Makoan. Sebagai tanda penghormatan tertinggi, Mendagri bersama Ketua Umum TP PKK Pusat Ny. Tri Tito Karnavian dikalungkan kain tenun khas Belu.

Rangkaian pembukaan dilanjutkan atraksi Drumband UNHAN RI yang energik. Loro Lamaknen membacakan sinopsis filosofi Tari Likurai. Bupati Belu Willybrodus Lay, SH, kemudian mengundang Mendagri, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Wali Kota Darwin, dan Menteri Muda Kebudayaan Timor Leste ke panggung alam untuk menyapa ribuan penonton.

Puncak pembukaan ditandai pemukulan Tihar oleh Mendagri. Pukulan itu menjadi simbol penyatuan hati seluruh elemen masyarakat perbatasan.

Baca Juga: 3.356 Penari Guncang Lembah Fulan Fehan, Mendagri Tito: Ini Panggung Ciptaan Tuhan, Bukan Buatan Manusia

Dari Kikit ke Tebe: Tarian Tanpa Sekat

Setelah Tihar dipukul, ribuan penari muncul dari balik bukit. Mereka membuka dengan Tari _Kikit_, dilanjutkan _Antama_, hingga kolaborasi suling bambu dengan Drumband UNHAN RI. Kehadiran penari Timor Leste menambah kental nuansa persaudaraan. Penampilan ditutup Tari _Merongeng_ yang dinamis.

Momen paling mengharukan terjadi saat para penari membawa empat bendera: Indonesia, Timor Leste, Australia, dan Lambang Kabupaten Belu.

“Bendera-bendera itu menjadi simbol kuat bahwa budaya adalah jembatan persahabatan yang melampaui batas administrasi negara,” tulis rilis Prokopimbelu.

Festival ditutup dengan Tebe massal. Penari, tamu undangan, dan masyarakat bergandengan tangan, mengentakkan kaki serempak dalam lingkaran raksasa. Gerakan itu menjadi manifestasi fisik dari tema festival: "Dance for Friendship".

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Terpopuler

X