RD. Hans juga menyoroti peran penting Keuskupan dan Paroki sebagai basis umat untuk menyiapkan kaderisasi awam Katolik.
Dirinya mengusulkan kaderisasi berjenjang dengan kurikulum konkret, mulai dari perekrutan hingga kerja sama dengan ormas Katolik untuk mendistribusikan kader.
"Penting untuk ditekankan, Gereja tidak sedang mengusahakan sistem kaderisasi yang sifatnya eksklusif hanya untuk kepentingan gereja," tegas RD. Hans.
Ia menekankan bahwa tujuan akhir kaderisasi adalah sumbangsih Gereja bagi kepentingan banyak orang.
Kader-kader berkualitas ini diharapkan dapat mengisi berbagai posisi strategis dari lembaga pemerintahan (eksekutif, legislatif, yudikatif) hingga lembaga profesional.
Terlebih lagi, mereka harus siap menjawab tantangan kecerdasan buatan (AI) yang kini semakin mendominasi berbagai aspek kehidupan.
Sinergi Lokal untuk Dampak Nasional
Domi Waso, Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Ruteng, menyambut baik arahan dari KWI tersebut.
Ia berharap kehadiran RD. Hans Jeharut dapat membuka kesadaran dan wawasan para rasul awam di Keuskupan Ruteng tentang dinamika berbangsa dan bernegara.
"Kita tahu bahwa ada hal-hal yang memang perlu kita perhatikan. Kita tidak bisa hanya diam saja," ucap Domi Waso.
Ke depan, Komisi Kerawam Keuskupan Ruteng akan memprioritaskan pendataan tokoh-tokoh awam Katolik potensial untuk didukung dalam berbagai peran, tidak hanya di ranah Pemerintahan, tetapi juga dalam semua lini kehidupan.
Selain itu, persiapan kader untuk pendidikan kedinasan juga menjadi fokus, dengan bimbingan dan fasilitas agar mereka mampu bersaing dan mengambil bagian.
Ia juga menegaskan pentingnya sinergi untuk pengembangan awam Katolik yang berdampak nyata bagi daerah dan bangsa.
"Kami berharap komisi dapat berperan lebih baik lagi dengan adanya dukungan, keterlibatan, dan kolaborasi dari semua pihak, termasuk ormas Katolik," tutupnya.