daerah

Kain Tenun Rembong Manggarai Timur: Warisan Leluhur Sejak 1950 yang Tetap Lestari Lewat Tangan Perempuan Nele

Jumat, 1 Mei 2026 | 16:48 WIB
Kain Tenun Rembong (Foto:Jhi.S)

Seluruh proses biasanya dikerjakan oleh dua orang. Alat tenun yang dipakai adalah kelirik dan zanta yang terbuat dari kayu dan bambu.

Pembuatan satu lembar kain rembong memakan waktu sekitar 14 hari, dengan jam kerja pukul 07.00 hingga 15.00 WITA. Hingga kini, tradisi menenun dikerjakan oleh kaum perempuan secara turun-temurun.

“Meskipun menggunakan peralatan sederhana, kualitas dan nilai budaya dalam setiap kain tetap terjaga,” tegas Yuliana.

Ia menambahkan, kegiatan menenun tidak sekadar menghasilkan karya, tetapi juga menjadi upaya menjaga identitas dan sejarah leluhur.

Baca Juga: Tasya dan Warga Rana Gapang Terima Bantuan Kemensos, Dinsos Matim: Negara Hadir di 3T

Harapan: Tetap Hidup dan Dikenal Generasi Mendatang

Kain tenun rembong tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga bukti keberlanjutan tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Masyarakat setempat berharap warisan leluhur ini tetap hidup, terus ditenun, dan dikenal luas oleh generasi mendatang di tengah arus modernisasi.

Harapan: Dukungan Nyata Pemerintah untuk Penenun Rembong

Masyarakat dan para penenun di Kampung Nele berharap Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi NTT, dan khususnya Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur tidak membiarkan kain tenun rembong hanya bertahan lewat ketulusan tangan perempuan. Warisan leluhur ini butuh perlindungan dan keberpihakan nyata di tengah arus modernisasi.

Baca Juga: Haru Keluarga Tasya: Rumah Singgah Ruteng Bukti Negara Hadir, Terima Kasih Pak Gubernur NTT

Tuntutan dan Harapan Konkret untuk Pemda Matim:

1. Regulasi dan Perlindungan HKI: Segera daftarkan motif wela runu, anting, dan su’i sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dan Indikasi Geografis Manggarai Timur. Ini penting agar tidak diklaim pihak luar dan jadi payung hukum bagi penenun.


2. Pelatihan Regenerasi: Buatkan program "Sekolah Tenun” di sekolah SMP/SMA se-Elar. Libatkan Yuliana dan para penenun senior sebagai guru tamu. Beri insentif bagi siswi yang serius belajar menenun agar tradisi tidak putus di generasi Y dan Z.


3. Bantuan Alat dan Bahan: Meskipun menjaga cara tradisional, penenun butuh bantuan modal benang berkualitas dan perbaikan alat kelirik serta zanta. Anggaran Dana Desa atau APBD bisa dialokasikan khusus untuk kelompok tenun Kampung Nele.

Halaman:

Tags

Terkini