IDENUSANTARA.COM - Kasus dugaan utang piutang yang menyeret Kepala Bidang (Kabid) Ketenagakerjaan pada Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UKM (Nakertranskop & UKM) Manggarai Barat, Maria Agustina Ivony Burhan, kian mencuat ke publik. Seorang perempuan bernama Emiliana Janggur secara terbuka mengungkap kronologi panjang yang ia alami, mulai dari komunikasi awal bernuansa tekanan hingga berujung pada pemberian pinjaman uang sebesar Rp37 juta kepada Maria Agustina Ivony Burhan yang hingga kini belum dikembalikan.
Ulasan ini disusun berdasarkan penuturan langsung Emiliana kepada media ini pada Senin (13/4/2026), dengan kronologi yang dirinci secara bertahap sejak awal perkenalan hingga konflik hukum yang mulai mengemuka.
Awal Komunikasi: Telepon Mendadak dan Nada 'Awasan' Soal Gaji Karyawan
Emiliana mengisahkan bahwa perkenalannya dengan Ivon Burhan bermula secara tiba-tiba. Ia dihubungi melalui telepon oleh seseorang yang kemudian memperkenalkan diri sebagai pejabat di bidang ketenagakerjaan.
Dalam percakapan awal itu, Ivon menanyakan secara detail terkait gaji karyawan yang bekerja di vila milik Emiliana. Namun, menurut Emiliana, cara penyampaian tersebut terasa janggal dan cenderung mengandung tekanan.
"Dia tanya saya, berapa gaji tenaga kerja di vila. Tapi nadanya bukan sekadar tanya. Seperti awasan. Dia bilang sekarang gaji harus ikut UMR," ungkap Emiliana.
Tak hanya itu, Ivon juga disebut mengirimkan aturan-aturan terkait ketenagakerjaan, termasuk standar upah minimum yang harus dipatuhi. Bahkan, Emiliana mengaku sempat diingatkan bahwa usahanya bisa bermasalah jika tidak mengikuti ketentuan tersebut.
"Dia bilang kalau saya tidak ikut aturan, bisa saja usaha saya ditutup, bahkan bisa ada demo," katanya.
Emiliana menegaskan bahwa karyawan yang bekerja di vilanya saat itu sebagian besar adalah anak-anak praktik yang sedang menunggu ijazah. Meski demikian, ia tetap memberikan gaji, tempat tinggal, serta kebutuhan makan.
"Saya sudah hitung, kalau digabung dengan makan, tempat tinggal, itu malah lebih dari UMR. Jadi saya rasa tidak ada yang salah," jelasnya.
Perubahan Pola Komunikasi: Dari Tekanan ke Pendekatan Emosional
Sekitar tiga minggu setelah percakapan pertama, Ivon kembali menghubungi Emiliana. Namun kali ini, pendekatan yang digunakan berubah drastis.
Jika sebelumnya terkesan menekan, kali ini Ivon justru membuka cerita pribadi yang menyentuh sisi emosional.
Ia mengaku mengalami persoalan serius dalam rumah tangganya, mulai dari konflik dengan suami hingga kesulitan ekonomi.
Artikel Terkait
Kisah PONTIUS PILATUS: Tokoh di Balik Penyaliban Yesus
Paskah di Gereja Devosional St Yoseph Ruteng: Ajakan Bangkit dari “Kubur Kehidupan”
Uskup Siprianus Hormat Pimpin Misa Ketiga Minggu Paskah di Katedral Ruteng, Bupati Manggarai Turut Hadir
PADA TENGAH HARI, KEGELAPAN MENYELUBUNGI SELURUH NEGERI
Solidaritas dari Katedral Ruteng: Bantuan Mengalir untuk Pembangunan Gereja dan Umat di Momen Paskah
MIMPI YANG MEMBAWA PENGHIBURAN: SEBUAH RENUNGAN KATOLIK
DIMANAKAH DALAM INJIL YESUS MENYATAKAN BAHWA DIA TUHAN?