Berkaca Dari Tragedi Pelajar di Ngada, Kemensos Soroti Lemahnya Akurasi Data Bansos

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Jumat, 6 Februari 2026 | 23:09 WIB
Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf saat berkunjung di Sidoarjo (Foto:Dok Kemensos RI)
Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf saat berkunjung di Sidoarjo (Foto:Dok Kemensos RI)

Sebagai solusi jangka panjang, Kemensos kini mendorong digitalisasi sistem bansos dan membuka ruang partisipasi publik. Masyarakat diberi kesempatan untuk ikut mengawasi, mengajukan sanggahan, hingga mengusulkan warga yang layak menerima bantuan.

Dalam pemaparannya, Gus Ipul mengakui masih ditemukan ketidaktepatan data di lapangan yang perlu segera diperbaiki.

Ia menilai pemutakhiran data merupakan pekerjaan rumah besar yang harus dilakukan secara bersama dan konsisten agar kualitas DTSEN terus meningkat.

Baca Juga: Nyawa di Ujung Pena: Ketika Centang Biru Bansos Tak Mampu Menahan Putus Asa Bocah 10 Tahun

Gus Ipul juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Kabupaten Sudah mulai melakukan pemutakhiran data secara berkelanjutan. Data hasil pembaruan tersebut selanjutnya diserahkan kepada Badan Pusat Statistik (BPS) untuk diverifikasi dan diperingkat berdasarkan desil yang valid.

“Sehingga keluarga yang selama ini belum terjangkau dan tidak terbawa dalam proses pembangunan itu akan mendapatkan program yang sesuai dengan kebutuhan. Ini dalam rangka perlindungan dan jaminan sosial, dalam rangka pemberdayaan,” jelas Gus Ipul.

Ia menjelaskan, pemutakhiran DTSEN dapat ditempuh melalui RT dan RW yang dimusyawarahkan di tingkat desa.

Setelah itu, data diinput oleh operator desa, sehingga peran operator desa dinilai sangat strategis sebagai ujung tombak penyediaan data akurat.

Baca Juga: Tragedi Ngada; ”Yang Sering Tak Tertulis di Buku Pelajaran Kita

Ia pun mendorong pemerintah daerah untuk memberikan pelatihan yang memadai kepada operator desa.

“Kita ingin Para Kepala Daerah, agar operator desa ini mendapatkan pelatihan-pelatihan yang cukup. Karena mereka menjadi salah satu yang penting untuk menghadirkan data yang akurat. Ujung tombaknya, disamping RT/RW, operator desa ini penting,” terang Gus Ipul.

Gus Ipul mencontohkan keberhasilan perbaikan data melalui digitalisasi bantuan sosial di Banyuwangi. Tingkat kesalahan data yang sebelumnya mencapai 77 persen berhasil ditekan menjadi 28 persen setelah pembenahan melalui DTSEN.

“Nanti dengan kerja keras lagi dan digitalisasi bansos secara bertahap nanti errornya bisa dibawah 10 atau dibawah 5 persen,” jelas Gus Ipul.

 

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

X