"Terima kasih Tuhan buat pertolongan-Mu sehingga anak-anak saya, enu Angel, enu Vanesa, enu Abigael, dan nana Van, sudah selesai mengikuti kontes nasional di IKN dengan lancar dan berhasil meraih tiga gelar," ungkap Heri.
Ia juga memberi pesan khusus kepada Vanesa, yang belum memperoleh gelar.
"Terima kasih untuk kamu empat yang sudah berjuang, dan khusus untuk enu Vanesa, tetap semangat karena ini awal dari kesuksesanmu ke depan. Jangan berkecil hati, pengalaman ini akan membawamu pada kesempatan yang lebih besar," tambahnya.
Baca Juga: Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma Membuka Rakerda Pemuda Katolik Komisariat Daerah NTT
Menurut Heri, capaian ini adalah bukti nyata bahwa Manggarai tidak pernah kekurangan talenta muda berbakat.
Ia juga menegaskan bahwa prestasi ini bukan hanya milik para finalis, tetapi juga buah dari dukungan banyak pihak, terutama diaspora Manggarai dan para donatur.
Perjuangan Tanpa Dukungan Pemda: Bukti Kemandirian Anak Muda
Salah satu catatan penting dari perjalanan ini adalah ketiadaan dukungan dari pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi. Proposal yang diajukan ke Pemprov NTT tidak mendapat respon.
Namun, keterbatasan itu tidak mematahkan semangat. Berbekal dukungan dana pribadi, keluarga, serta solidaritas diaspora Manggarai di Jakarta dan daerah lain, mereka tetap melangkah ke IKN. Tokoh diaspora seperti Edy Endi, Vincent Jemadu, Inosensius Samsul, hingga Remy Jumalan tercatat ikut memberikan bantuan.
"Kami memang tidak mendapat bantuan dari pemerintah, tetapi berkat dukungan orang-orang baik, anak-anak ini tetap bisa tampil dan membuktikan diri. Justru di sini kita belajar, bahwa Manggarai bisa maju dengan kemandirian," tegas Heri.
Kisah ini menjadi pelajaran penting bahwa prestasi tidak selalu bergantung pada fasilitas negara. Kegigihan, solidaritas, dan komitmen bisa menjadi bahan bakar utama untuk meraih sukses.
Baca Juga: Peringati Hari Lahir Kejaksaan ke-80, Kajati NTT: Momentum Refleksi Pemberantasan Korupsi
Persiapan Ketat, Persaingan Tidak Mudah
Perjalanan menuju IKN tidaklah singkat. Selama lebih dari dua bulan, para finalis ditempa dengan berbagai latihan intensif. Mereka diasah dalam keterampilan berbicara di depan umum, penguasaan bahasa Inggris, hingga pendalaman wawasan tentang pariwisata dan budaya lokal.