Menariknya, sebagian besar peserta dari provinsi lain adalah mahasiswa, sarjana, atau bahkan pengusaha muda. Sementara finalis asal Manggarai masih duduk di bangku SMA. Perbedaan pengalaman itu sempat membuat mereka gugup. Namun, berkat latihan keras dan dukungan mental dari tim, mereka justru mampu tampil percaya diri dan menyaingi peserta yang lebih berpengalaman.
"Persaingan sangat ketat, tetapi anak-anak kita membuktikan bahwa usia bukan penghalang. Dengan latihan dan keyakinan, mereka bisa berdiri sejajar bahkan lebih unggul," ujar Heri penuh kebanggaan.
Baca Juga: Lautan Manusia Padati Penutupan Pameran Pembangunan NTT 2025
Suara dari Para Finalis: Harapan dan Mimpi ke Depan
Keempat finalis ini juga menyampaikan kesan dan harapan mereka.
Abigael Ernesta Kenaru mengaku bersyukur bisa mengharumkan nama NTT.
"Saya ingin anak muda Manggarai lebih percaya diri tampil di panggung nasional. Kita punya banyak potensi yang bisa bersaing," ucapnya.
Baca Juga: Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Hadiri Acara Penyerahan Remisi Bagi Narapidana dan Anak Binaan
Maria Angelica Djandu menegaskan komitmennya untuk menjadi duta kampanye anti-narkoba.
"Pariwisata bukan hanya soal destinasi indah, tapi juga soal generasi yang sehat. Saya ingin mengajak anak muda menjauhi narkoba," ujarnya.
Bonevantura Van Babut merasa gelar Best Talent menjadi bukti bahwa kreativitas bisa membuka jalan menuju pengakuan.
"Saya ingin terus mengasah bakat dan suatu hari membawa nama Manggarai ke level internasional," katanya.
Baca Juga: Gubernur Melki Laka Lena Pimpin Upacara Peringatan HUT Ke-80 RI Tingkat Provinsi NTT
Geraldine Vanesa Magung yang belum memperoleh gelar justru tampil optimis.
"Saya tidak kecewa. Pengalaman ini sangat berharga. Saya yakin suatu saat saya akan kembali dengan hasil yang lebih baik," ungkapnya penuh semangat.