nasional

Gema "TIDAK!" di Monas: Saat Pidato Presiden Prabowo Terbentur Realita Buruh May Day 2026

Sabtu, 2 Mei 2026 | 07:47 WIB
Momen Hari Buruh 2026 di Jakarta

JAKARTA, Idenusantara.com– Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Monas, 1 Mei 2026, yang semula diprediksi akan berjalan formal, mendadak berubah menjadi momen penuh ketegangan organik. Sebuah interaksi spontan antara Presiden Prabowo Subianto dan ribuan buruh menjadi viral setelah massa memberikan jawaban tak terduga yang menggetarkan pelataran Monas.

Baca Juga: “Gigih: Catatan Pengabdianku” Diluncurkan, Kisah Rendah Hati Sekda Matim Boni Hasudungan Siregar yang Sempat Tolak Dibukukan

Momen yang Membungkam Retorika

​Kejadian bermula saat Presiden Prabowo berdiri di atas mimbar, memaparkan capaian dan visi pemerintah terkait sumber daya manusia. Di tengah pidatonya, Presiden menyinggung program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG).

​Dengan nada retoris, Presiden bertanya kepada massa, "Apakah saudara-saudara setuju program ini menjadi kunci kekuatan bangsa kita? Sudahkah manfaatnya dirasakan?"

​Bukannya tepuk tangan, jawaban yang muncul adalah teriakan "TIDAK!" yang bergemuruh dari ribuan kerongkongan buruh secara serempak.

Baca Juga: Kain Tenun Rembong Manggarai Timur: Warisan Leluhur Sejak 1950 yang Tetap Lestari Lewat Tangan Perempuan Nele

Mengapa Buruh Berteriak "Tidak"?

​Respon kolektif ini bukan sekadar suara sumbang, melainkan sebuah pesan politik yang tajam. Di balik teriakan tersebut, tersimpan kegelisahan mendalam yang dirasakan kelas pekerja di tahun 2026:

​Lapar akan Keadilan Upah: Bagi buruh, gizi memang penting, namun kenaikan upah layak yang mampu mengejar inflasi 2026 jauh lebih mendesak.

​Benturan Prioritas: Massa menilai anggaran besar untuk MBG seharusnya bisa dialokasikan untuk penguatan jaring pengaman sosial yang lebih menyentuh persoalan outsourcing dan perlindungan PHK.

Baca Juga: Tasya dan Warga Rana Gapang Terima Bantuan Kemensos, Dinsos Matim: Negara Hadir di 3T

​Realita di Lapangan: Jawaban "Tidak" tersebut menjadi sinyal bahwa narasi sukses pemerintah di televisi belum sepenuhnya "kenyang" dirasakan di meja makan keluarga buruh.

​Alih-alih menutup diri, pihak Sekretariat Presiden justru menangkap momen ini sebagai potret demokrasi yang sehat. Dalam keterangan persnya, pemerintah menyebutkan bahwa kejujuran massa di Monas adalah "audit langsung" dari rakyat.

Halaman:

Tags

Terkini