Ketiga, dan yang terpenting, diperlukan kepemimpinan Gereja yang profetik dan berani, yang siap menghadapi realitas di lapangan.
Para pemimpin Gereja diharapkan menjadi suara bagi yang tak bersuara, secara konstruktif mengkritik ketidakadilan struktural, dan mendorong umat untuk terlibat dalam aksi nyata.
Mereka perlu keluar dari zona nyaman yang terkesan seremoni sentris, untuk berada di tengah-tengah umat yang bergumul, mendengarkan keluh kesah mereka dengan empati, dan bersama-sama mencari solusi.
Paus Fransiskus, melalui seruannya tentang "gereja yang keluar" dalam Evangelii Gaudium, telah memberikan teladan yang tak terbantahkan.
Gereja harus bertransformasi menjadi rumah sakit lapangan bagi mereka yang terluka dan membutuhkan pertolongan segera, bukan sekadar sebuah institusi yang pasif dan terlalu nyaman dalam tradisinya.
Pada akhirnya, masa depan Gereja Katolik, termasuk Keuskupan Ruteng, dan relevansinya akan sangat ditentukan oleh kemampuannya untuk menyeimbangkan antara spiritualitas yang mendalam dan kedalaman keterlibatannya dalam dunia.
Kegiatan keagamaan akan menjadi lebih bermakna jika dijiwai oleh pelayanan yang tulus dan berani. Perayaan iman akan lebih transformatif jika menghasilkan umat yang militan dalam memperjuangkan keadilan.
Hanya dengan mewujudkan Gereja yang miskin untuk orang miskin – sebuah Gereja yang peka, terlibat, dan berani bersaksi maka ia dapat terus menjadi mercusuar harapan dan agen transformasi di tengah kompleksitas dunia saat ini, bukan sekadar sebuah institusi yang terkesan terjebak dalam kemegahan ritualnya sendiri atau terlalu fokus pada status mayoritasnya.