Inklusi sosial tidak boleh berhenti sebagai jargon atau puisi di atas kertas. Ia harus menjadi kenyataan yang hidup. Kenyataan itu hanya bisa lahir bila kita berani mencabut akar diskriminasi yang bernama patriarki.
Sudah saatnya kita berani mengatakan dengan lantang: patriarki bukanlah warisan mulia, melainkan beban sejarah. Ia bukan pusaka, melainkan racun yang diwariskan.
Menolak patriarki bukanlah menolak budaya, melainkan menghidupkan kembali inti budaya yaitu kemanusiaan, keadilan, dan kebijaksanaan.