Penghormatan Martabat Manusia, Telaah Spirit Inklusi Sosial dari Evangelii Gaudium

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Jumat, 26 September 2025 | 18:01 WIB
Maria Yunita Mbio (Mahasiswa STIPAS St. Sirius Ruteng)
Maria Yunita Mbio (Mahasiswa STIPAS St. Sirius Ruteng)

Paus Fransiskus secara tegas menyatakan bahwa setiap penginjil sejati harus menjadikan orang miskin sebagai prioritas.

Hal ini menuntut Gereja untuk menjadi "miskin bagi orang miskin," berbagi hidup mereka, dan memperjuangkan martabat mereka.

Ini adalah bentuk inklusi sosial yang paling murni, di mana kita tidak hanya menyambut orang miskin ke dalam Gereja, tetapi kita juga bergerak ke dalam dunia mereka, hidup bersama mereka, dan berjuang bersama mereka untuk keadilan.

Selain kaum miskin, Evangelii Gaudium juga menyoroti pentingnya dialog sebagai pilar fundamental dari inklusi.

Di dunia yang semakin terpolarisasi, di mana perbedaan sering kali memicu konflik, Paus Fransiskus menyerukan budaya perjumpaan.

Dialog, baginya, bukanlah sebuah hal yang taktik, melainkan sebuah sikap. Ia menyerukan dialog dengan negara, dengan ilmu pengetahuan, dengan agama-agama lain, dan dengan budaya.

Dalam konteks ini, inklusi berarti mendengarkan dengan penuh hormat, tanpa prasangka. Ia menantang kita untuk melihat orang lain tidak sebagai lawan, melainkan sebagai sesama pengembara yang memiliki kisah, harapan, dan keprihatinan.

Sikap dialogis inilah yang dapat menghancurkan tembok ketakutan dan ketidakpercayaan, membuka jalan bagi rekonsiliasi dan perdamaian.

Dengan itu, Paus Fransiskus dengan tajam juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai "budaya buang" (throwaway culture).

Ini adalah mentalitas yang menganggap manusia dan hal-hal di sekitarnya hanya berharga selama mereka berguna, dan begitu mereka tidak lagi berguna, mereka dapat dibuang begitu saja.

Budaya ini meminggirkan orang tua, memarginalisasi penyandang disabilitas, dan memandang orang miskin sebagai beban.

Menghadapi budaya yang memandang rendah martabat manusia ini, Evangelii Gaudium menawarkan visi inklusi yang radikal, yang menegaskan kembali nilai dan martabat setiap individu.

Paus mengajak kita untuk menjadi penjaga satu sama lain, untuk membangun jembatan, dan untuk melawan gelombang individualisme yang mengancam untuk menelan kita semua.

Ini adalah panggilan untuk melihat wajah manusia yang unik pada setiap orang, bukan sekadar komoditas yang bisa diabaikan.

Pada akhirnya, semangat inklusi sosial dari Evangelii Gaudium bukanlah agenda tambahan, tetapi merupakan jantung dari misi Gereja itu sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dionisius Upartus Agat

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X