Jembatan Harapan, Relevansi Inklusi Sosial dalam Perspektif Iman Katolik

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Sabtu, 27 September 2025 | 05:29 WIB
Paulinus Subanpulo Wolor (Mahasiswa STIPAS St sirilus Ruteng)
Paulinus Subanpulo Wolor (Mahasiswa STIPAS St sirilus Ruteng)

Opini oleh Paulinus Subanpulo Wolor (Mahasiswa STIPAS St sirilus Ruteng)

Ruteng, Idenusantara.com - Inklusi sosial sejatinya merupakan jantung iman umat katolik karena selaras dengan inti ajaran Kristiani yang berpusat pada kasih.

Iman katolik tidak hanya berbicara tentang relasi personal dengan Allah, melainkan juga tentang bagaimana kasih itu diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Ketika Yesus mewartakan injil, ia tidak hanya berbicara dengan kaum terhormat, tetapi juga mendekati kaum miskin, orang sakit, dan mereka yang terpinggirkan.

Di Indonesia dengan keindahan alam dan keragaman budayanya, sering disebut sebagai miniatur dunia.

Namun, di balik pesona ini, tersembunyi tantangan inklusi sosial yang kompleks.

Ketidaksetaraan ekonomi, diskriminasi dan marginalisasi masih menjadi isu yang menghantui sebagian masyarakat.

Di tengah realitas ini, Gereja Katolik di Indonesia terpanggil untuk menghidupi imannya secara konkret, menjadikan inklusi sosial sebagai inti dari pelayanan.

Inklusi sosial bukanlah sekadar tren melainkan perintah mendasar dalam ajaran Kristen.

Dalam Kitab Suci, kita menemukan banyak contoh bagaimana Yesus merangkul orang-orang yeng terpinggirkan antara lain orang miskin, orang sakit, perempuan, dan orang asing.

Yesus tidak hanya berbelas kasih kepada mereka, tetapi juga memulihkan martabat mereka sebagai manusia yang diciptakan menurut gambar Allah.

Inklusi sosial bukanlah sekadar program atau kegiatan sampingan bagi Gereja Katolik, melainkan inti dari iman itu sendiri.

Dengan menjadikan inklusi sosial sebagai Jantung yang memberikan kehidupan, Gereja Katolik dapat menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih dan belas kasih bagi semua orang, terutama mereka yang terpinggirkan dan tersisih.

Inklusi sosial juga melibatkan adanya upaya untuk mengatasi diskriminasi, ketidakadilan, kesenjangan sosial dalam masyarakat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dionisius Upartus Agat

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X