Perarakan Patung Bunda Maria Ruteng sebagai Katalis Inklusi Sosial dan Pembaharuan Ajaran Sosial Gereja

photo author
Dionisius Upartus Agat, Ide Nusantara
- Minggu, 28 September 2025 | 18:22 WIB
Oktaviana Friska Bengkos (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)
Oktaviana Friska Bengkos (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Penulis: Oktaviana Friska Bengkos (Mahasiswi STIPAS St. Sirilus Ruteng)

Ruteng, Idenusantara.com - Perarakan patung Maria dari Katedral Ruteng menuju Golo Curu, sebuah tradisi devosi yang telah mengakar kuat di tanah Manggarai, Nusa Tenggara Timur, melampaui sekadar ritual keagamaan.

Ia adalah sebuah manifestasi hidup dari iman yang bergerak, sebuah perjalanan kolektif yang secara inheren membawa pesan-pesan mendalam tentang solidaritas, kebersamaan, dan martabat manusia.

Dalam konteks masyarakat modern yang seringkali diwarnai oleh fragmentasi, ketidaksetaraan, dan individualisme, perarakan ini tampil sebagai sebuah katalisator yang kuat untuk inklusi sosial pada saat yang sama, menjadi arena pembaruan yang dinamis bagi Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Setiap tahun, ribuan umat Katolik, dan bahkan tak sedikit dari saudara-saudari non-Katolik, berbondong-bondong mengikuti perarakan ini.

Mereka datang dari berbagai penjuru Ruteng, dari pelosok desa, hingga kota-kota lain, semua dengan satu tujuan: menghormati Bunda Maria dan merayakan iman.

Perjalanan yang mungkin melelahkan secara fisik ini justru menjadi sebuah pengalaman spiritual yang memperkaya. Di sinilah inklusi sosial mulai terwujud secara organik.

Dalam barisan perarakan, hirarki sosial seolah lenyap. Pejabat dan rakyat biasa, petani dan guru, tua dan muda, kaya dan miskin, semua berjalan berdampingan, berbagi keringat, tawa, dan doa.

Tidak ada sekat yang memisahkan; yang ada hanyalah satu identitas kolektif sebagai peziarah.

Mereka saling membantu saat ada yang kelelahan, berbagi air minum, atau sekadar memberikan senyuman penyemangat.

Fenomena ini adalah cerminan nyata dari solidaritas yang diajarkan oleh Gereja, di mana setiap individu diakui sebagai sesama dalam perjalanan hidup, dengan martabat yang setara di hadapan Tuhan.

Perarakan ini juga menjadi ruang di mana perbedaan latar belakang etnis dan budaya yang kaya di Manggarai dapat bertemu dan berpadu.

Meskipun mayoritas peserta adalah umat Katolik, semangat kebersamaan seringkali menarik perhatian dan partisipasi dari komunitas lain, menciptakan jembatan dialog dan pemahaman antar umat beragama.

Ini adalah contoh konkret bagaimana sebuah tradisi keagamaan dapat menjadi titik temu bagi keragaman, memperkuat tenun kebangsaan di tingkat lokal.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Dionisius Upartus Agat

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X