Oleh:Lhyna Marlina
Opini-Idenusantara.com-
Wajah Ganda Kekuasaan
Di panggung depan, di bawah sorotan kamera, politik kita berbicara dengan bahasa malaikat: demi rakyat, demi bangsa, demi stabilitas. Namun, begitu kamera mati dan pintu tertutup, bahasa itu berganti rupa menjadi kalkulasi saudagar: “Lu dapat apa, gue dapat apa.”
Di lorong-lorong senyap inilah praktik itu hidup. Sebuah praktik yang mengubah mandat rakyat menjadi sekadar komoditas kiloan. Kita menyebutnya: Politik Dagang Sapi.
Akar Masalah: Transaksi, Bukan Negosiasi
Istilah ini tidak lahir dari ruang hampa. Ia meminjam logika pasar ternak. Transaksi pragmatis yang hanya peduli bobot daging dan harga jual. Tanpa moral, tanpa visi, tanpa basa-basi.
Ketika logika ini masuk ke istana kekuasaan, maknanya menjadi telanjang:
* Posisi menteri bukan untuk yang ahli, tapi untuk yang "berkeringat".
* Undang-undang bukan untuk melindungi warga, tapi untuk mengamankan "pemodal".
* Koalisi bukan penyatuan gagasan, melainkan bagi-bagi lapak.
Modus Operandi: Senyap tapi Nyata
Politik dagang sapi tidak pernah punya rilis pers. Ia bekerja dalam kode-kode bisu dan "saling pengertian" yang mematikan:
“Kami amankan kebijakan Bapak, asal kursi komisaris aman.”
“Setuju revisi UU ini, asal kasus korupsi teman kami dipetieskan.”
Di titik ini, kebijakan publik tak lagi suci. Ia hanyalah alat tukar. Demokrasi menyempit menjadi sekadar meja kasir bagi para elit.