(Oleh:Wicaksono)
OPINI, Idenusantara.com-Bagaimana reaksi mereka yang kehilangan rezeki jika kepala daerah jadi dipilih oleh DPRD, bukan oleh rakyat langsung?
Ketika pilkada dilakukan secara tidak langsung, dampaknya tidak berhenti pada perubahan prosedur pemilihan. Ia menciptakan guncangan ekonomi yang terasa nyata bagi kelompok-kelompok yang selama ini hidup dari proses pilkada langsung.
Seperti semua guncangan ekonomi yang memotong mata pencaharian, respons yang muncul hampir tidak pernah pasif. Orang yang kehilangan rezeki jarang duduk diam sambil berkata “demi stabilitas negara”. Mereka akan bergerak. Pelan atau gaduh, terbuka atau tersembunyi. Itulah yang bisa disebut sebagai serangan balik.
Baca Juga: Wakil Gubernur NTT Tinjau Kawasan Industri Bolok dan Dorong Tata Kelola yang Lebih Transparan
Reaksi pertama hampir pasti muncul di ranah politik. Para pelaku industri kampanye, konsultan komunikasi, media lokal, dan jejaring relawan politik tidak tiba-tiba menjadi apolitis. Justru sebaliknya.
Mereka paham betul bagaimana kekuasaan bekerja. Mereka tahu saluran partai, fraksi, dan tokoh kunci. Ketika pasar mereka dipangkas, dorongan untuk memengaruhi keputusan politik akan menguat.
Tekanan politik akan diarahkan ke DPRD, ke partai-partai, dan ke elite pusat dengan narasi yang dibingkai rapi. Bukan lagi soal “kami kehilangan klien”, melainkan soal “demokrasi dirampas”, “rakyat dipinggirkan”, atau “otonomi daerah dilemahkan”.
Narasi ini tidak selalu murni ideologis, tetapi berfungsi sebagai kendaraan untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi yang hilang.
Di saat yang sama, serangan balik akan bergerak masif di ruang komunikasi publik. Media lokal yang kehilangan iklan politik dan relevansi liputan akan terdorong mengambil posisi editorial yang lebih keras.
Baca Juga: Rendah Lemak.Ini Dia Resep Kue Keranjang Anti Goreng-goreng Dikukus dengan Isi Pisang
Opini, tajuk rencana, dan liputan investigatif tentang bahaya pilkada tidak langsung akan bermunculan. Media sosial akan menjadi arena utama.
Mantan tim kampanye dan pekerja kreatif politik memiliki satu keunggulan besar: mereka ahli membangun isu. Mereka tahu cara membuat pesan sederhana, emosional, dan mudah disebarkan.
Kampanye penolakan pilkada tidak langsung akan dibungkus sebagai gerakan moral, gerakan rakyat, atau perlawanan terhadap elite. Padahal di balik itu, ada kemarahan ekonomi yang mencari saluran.