KERTAS TII MAMA RETI

photo author
Ejhy Serlesnso, Ide Nusantara
- Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
Dominikus Darus
Dominikus Darus

Idenusantara.com-Kertas Tii Mama Reti
(Surat untuk mama Reti)
Mama Galo Zee
(Mama pelit sekali)
Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama
(Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee
(Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
Molo Mama
(Selamat tinggal mama).

Baca Juga: Lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Bocah SD di Ngada Tewas Bunuh Diri

Saya berhenti lama setelah membaca surat itu.
Bukan karena bahasanya.
Bukan karena ejaannya.
Justru karena isinya terlalu rapi untuk anak kelas lima SD.

Anak ini tidak memaki.
Tidak mengancam.
Tidak menyalahkan negara.
Tidak menyebut presiden, menteri, atau kepala sekolah.

Ia hanya pamit.
Kalimat yang paling menyayat justru yang terdengar paling tenang:
“Mama baik sudah.”
Itu kalimat anak yang sudah belajar satu hal berat : menahan diri.

Anak 11 tahun itu ingin membeli buku.
Bukan ponsel.
Bukan kuota.
Bukan sepatu mahal.
Tetapi BUKU.

Baca Juga: Tragedi Ngada; ”Yang Sering Tak Tertulis di Buku Pelajaran Kita

Ibunya tidak memberi.
Bukan karena pelit.
Bukan karena jahat.
Tapi karena tidak ada uang.
Di situlah tragedi Indonesia bekerja dengan sangat sunyi.
Kita sering berkata:
 "Pendidikan dasar gratis.”
Gratis di undang-undang.
Gratis di pidato.
Gratis di baliho.
Tapi tidak selalu gratis di dapur rumah orang miskin.
Buku masih harus dibeli.
Seragam masih harus ada.
Dan yang paling mahal: rasa malu anak karena tak bisa meminta lagi.

Anak ini tidak menulis: “Mama salah.”
Ia menulis: “Mama baik sudah.”
Itu kalimat orang dewasa yang terlalu cepat tumbuh.
Ia bahkan meminta satu hal terakhir: jangan menangis, jangan cari saya.
Artinya apa?
Artinya ia merasa keberadaannya merepotkan.
Ia merasa dirinya adalah biaya.
Ia merasa dunia akan lebih ringan tanpa dirinya.

Baca Juga: Anak Itu Tak Mati karena Buku Dan Pena, Ia Mati karena Negara Lalai

Tidak ada anak yang lahir dengan pikiran seperti itu.
Pikiran itu dipelajari pelan-pelan dari emiskinan yang terus meminta maaf.

Kalimat “Mama Galo Zee” (Mama pelit sekali) sering dijadikan bahan olok-olok.
Padahal itu jeritan yang tidak tahu harus keluar ke mana.
Ini bukan soal ibu.
Ini bukan soal keluarga.
Ini soal negara yang terlalu sering merasa sudah selesai hanya karena sudah menulis kebijakan.

Kalau seorang anak bunuh diri karena buku pelajaran, maka:
ada sekolah yang tidak tahu muridnya lapar,
ada sistem bantuan yang tidak sampai, ada kita semua yang terlalu cepat menilai.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ejhy Serlesnso

Tags

Rekomendasi

Terkini

Wartawan Harus Tahu Dulu Baru Bertanya

Jumat, 27 Maret 2026 | 16:17 WIB

Mampukah Wartawan Adil Sejak Dalam Pikiran?

Senin, 9 Februari 2026 | 21:53 WIB

Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi

Senin, 9 Februari 2026 | 07:29 WIB

Negara Gagal, Seorang Anak Memilih Bundir

Jumat, 6 Februari 2026 | 23:25 WIB

KERTAS TII MAMA RETI

Kamis, 5 Februari 2026 | 22:56 WIB
X